Ruang Kenaikan BI Rate Kembali Terbuka karena Tekanan Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 Juli 2026. BI diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya atau BI rate pada Juli 2026.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz mengatakan BI Rate berpotensi kembali naik sebesar 25 bps menjadi 6%. Alasan kenaikan ini muncul karena adanya potensi tekanan pada rupiah menyusul dinamika permintaan korporasi terhadap dolar dan ketidakpastian ke depan.
“Sementara itu, inflasi terakhir juga meningkat ke arah batas atas target BI,” kata Irman, kepada investortrust.id, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga
Jelang Putusan BI Rate, IHSG Berpotensi Bergerak di Rentang Ini
Irman mengatakan perkembangan harga minyak dunia yang kembali meningkat ke level US$ 80-90 per barel berpotensi menekan inflasi. Selain itu, ada tekanan dari harga pangan yang berpotensi naik karena El Nino.
“Maka kami melihat BI seharusnya melanjutkan siklus peningkatan bunga acuan dengan kenaikan 25 bps, tidak sebesar sebelumnya yang mencapai 50 bps,” kata dia.
Irman mengatakan jika langkah ini diambil, rupiah dapat berlanjut menguat.
Sementara itu, Irman juga melihat potensi BI mempertahankan BI rate. Namun, upaya menahan BI Rate ini memiliki risiko pembalikan atas penguatan rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir.
“Menurut saya, kemungkinan BI menahan bunga acuan memang terbuka karena penguatan rupiah beberapa hari terakhir, walaupun jika kita forward looking, dengan faktor risiko global dan domestik, kenaikan 25 bps bulan ini seharusnya dapat dijustifikasi,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Makroekonomi dan Riset Pasar Bank Permata, Faisal Rachman, dalam skenario baseline, BI akan mempertahankan BI rate di level 5,75% hingga akhir 2026.
“Namun demikian, kami tetap membuka kemungkinan adanya pengetatan moneter lanjutan apabila kondisi global maupun domestik memburuk lebih jauh,” ucap Faisal.
Faisal menjelaskan kenaikan kumulatif BI rate sebesar 100 bps selama Mei dan Juni 2026 pada dasarnya telah mencerminkan antisipasi BI terhadap potensi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps pada akhir tahun ini.
“Dengan kata lain, BI masih berada ahead of the curve,” kata dia.
Menurut Faisal, upaya BI untuk menjaga nilai tukar rupiah masih dalam koridor. Kenaikan kumulatif BI rate telah berhasil mengimbangi peningkatan risk premium Indonesia sekaligus menjaga daya tarik aset keuangan domestik, khususnya SBN.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang masih membuat investor cenderung bersikap risk off, antara lain adalah proses peninjauan klasifikasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026, serta adanya ketidakpastian arah kebijakan ekonomi pemerintah secara keseluruhan.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky mengatakan inflasi terhadap harga energi global masih membayangi. Kenaikan minyak mentah akibat perang di Timur Tengah akan berkontribusi terhadap inflasi impor.
Terus melemahnya rupiah, meskipun suku bunga lebih tinggi dan adanya intervensi valuta asing, menunjukkan bahwa langkah-langkah moneter mungkin telah menahan volatilitas tetapi belum membalikkan tekanan mendasar.
Baca Juga
Meski BI Rate Naik 75 Basis Poin, Bunga Deposito Relatif Tetap, Mengapa?
“Permintaan dolar dari investor global, kebutuhan valuta asing perusahaan, serta kekhawatiran terkait komitmen fiskal dan kebutuhan pembiayaan sebagian mengimbangi manfaat dari selisih suku bunga yang lebih lebar,” tulis Riefky.
Oleh karena itu, pengetatan moneter lebih lanjut mungkin hanya memberikan dukungan tambahan yang terbatas bagi rupiah, sementara membebankan biaya yang lebih besar pada kredit domestik, investasi, dan aktivitas ekonomi.
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang sambil mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan terbaru terhadap nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik,” kata dia.
