OJK Beberkan Tantangan Industri Dapen, Mulai dari Tekanan Geopolitik Hingga Potensi Kenaikan Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrus.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, industri dana pensiun (dapen) masih menghadapi berbagai tantangan di 2026, mulai dari tekanan geopolitik global, hingga potensi kenaikan inflasi yang dapat mempengaruhi hasil investasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengungkapkan, berdasarkan data posisi Maret 2026, return on investment (ROI) dapen tercatat 0,2%, menurun dibanding periode yang sama 2025 sebesar 0,70%.
“Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global yang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik,” ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (18/5/2026).
Baca Juga
Dorong Inklusi Dapen, OJK Evaluasi Pengajuan DPLK oleh Manajer Investasi
Selain itu, pemicu lainnya adalah penurunan tingkat suku bunga yang berdampak pada menurunnya imbal hasil (yield) investasi, khususnya pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap yang masih mendominasi portofolio investasi dapen.
Meski begitu, Ogi menilai kinerja investasi dapen sepanjang 2026 masih berpotensi tumbuh positif seiring pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap terjaga dan tingkat inflasi yang relatif terkendali.
“Meski pencapaiannya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan domestik,” katanya.
Lebih lanjut, Ogi menjelaskan tantangan utama industri dapen ke depan tak hanya berasal dari faktor eksternal seperti volatilitas pasar keuangan, perubahan suku bunga, dan tekanan geopolitik, tapi juga dari potensi kenaikan inflasi yang dapat mempengaruhi nilai wajar instrumen investasi.
Baca Juga
Total Aset Dapen Naik 10,49% Jadi Rp 1.684,89 Triliun di Kuartal I 2026
Selain itu, strategi alokasi aset masing-masing dapen juga dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan pencapaian ROI. Menurut Ogi, setiap dapen memiliki profil liabilitas dan tingkat toleransi risiko yang berbeda sehingga membutuhkan strategi investasi yang disesuaikan.
“Oleh karena itu, industri perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penempatan investasi, serta melakukan diversifikasi portofolio agar ketahanan dan keberlanjutan hasil investasi tetap terjaga,” ucap Ogi.

