Fundamental Solid, Analis Yakin Saham BRI (BBRI) Masih Layak Koleksi Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kian menarik setelah harga saham terkoreksi sepanjang tahun berjalan. Valuasi saat ini telah terdiskon dan tidak mencerminkan fundamental yang tetap solid. Sementara target kinerja keuangan 2026 diperkirakan tetap bertumbuh.
Hal ini mendorong analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.010 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 49,1% dari harga penutupan kemarin level Rp 2.690.
Saat ini saham BBRI diperdagangkan pada valuasi sekitar 1,2 kali price to book value (PBV) 2026, berada di bawah level -2 standar deviasi sebesar 1,5 kali PBV, sehingga dinilai berada pada kondisi undervalued. Nilai wajar terendah BBRI masih berada di kisaran Rp 2.670 per saham. Level tersebut tetap berada di atas titik terendah harga saham tahun berjalan sebesar Rp2.590, sehingga menunjukkan adanya margin of safety yang kuat.
Baca Juga
Laba 4 Bank Besar Tembus Rp 78,5 Triliun hingga Mei 2026, Prospek Saham Menarik!
Adapun sepanjang tahun berjalan (YTD) 2026, saham BBRI telah terkoreksi 26,1% dan turun 34,76% dari level tertinggi tahun ini. Pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh berkurangnya kepercayaan investor asing dan sentimen domestic, dibandingkan perubahan fundamental perusahaan.
KB Valbury Sekuritas menyebutkan bahwa dari sisi kinerja, BBRI membukukan laba bersih bank only sebesar Rp 20,42 triliun pada lima bulan pertama 2026 atau tumbuh 9,5% secara tahunan (year on year/YoY). Realisasi tersebut setara dengan 34,4% dari proyeksi laba tahun penuh dan sejalan dengan konsensus pasar sebesar 33,9%.
Pada Mei 2026 saja, laba bersih mencapai Rp4,52 triliun, meningkat 24,4% YoY dan 12,1% dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan momentum pertumbuhan yang tetap terjaga.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 6,6% YoY, penurunan beban bunga sebesar 14,4% YoY akibat berkurangnya pendanaan berbiaya tinggi, serta kenaikan pendapatan nonbunga 17,6% YoY yang berasal dari peningkatan fee based income dan dividen anak usaha. Alhasil, laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) meningkat menjadi Rp 44,59 triliun, atau naik 8% YoY.
Baca Juga
BRI Apresiasi Penempatan Dana SAL Pemerintah, Fokus Optimalkan Pembiayaan Produktif
Dari sisi intermediasi, total kredit BBRI mencapai Rp1.417,19 triliun hingga Mei 2026 atau tumbuh 12,2% YoY, melampaui target manajemen tahun ini yang berada pada kisaran 7-9%. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8,6% YoY menjadi Rp 1.546,44 triliun dengan dana murah (CASA) naik 18% YoY menjadi Rp 1.092,27 triliun dan deposito yang merupakan dana mahal turun 8,8% YoY, sehingga memperkuat struktur pendanaan dan menopang margin bunga.
Dari sisi kualitas aset, cost of credit (CoC) membaik menjadi 3,3% dibandingkan 3,5% pada periode yang sama tahun lalu dan semakin mendekati target perseroan di kisaran 2,9%-3,2%. Net interest margin (NIM) bank only juga relatif stabil di 6,3%, hanya turun tipis 10 basis poin, dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut analis, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia masih memberikan ruang bagi perseroan untuk melakukan repricing kredit secara selektif sehingga dapat menopang margin sepanjang 2026.
Melihat realisasi terebut, KB Valbury optimistis terhadap pencapaian laba bersih BBRI senilai Rp 59,43 triliun pada 2026 atau tumbuh sekitar 4,9%, dibandingkan tahun sebelumnya. Selanjutnya, laba diperkirakan meningkat menjadi Rp 63,43 triliun pada 2027 dan Rp 68,54 triliun pada 2028. Pendapatan bunga bersih diproyeksikan naik menjadi Rp 159,31 triliun pada 2026 dari Rp 150,50 triliun pada 2025.
