Laba 4 Bank Besar Tembus Rp 78,5 Triliun hingga Mei 2026, Prospek Saham Menarik!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek kinerja keuangan sektor perbankan nasional tetap solid setelah empat bank terbesar atau KBMI IV di Indonesia membukukan pertumbuhan laba bersih bank only yang sejalan dengan ekspektasi Januari-Mei 2026. Kondisi tersebut turut menopang prospek saham perbankan dipertahankan overweight.
Berdasarkan riset MNC Sekuritas, total laba bersih empat bank besar mencapai Rp 78,5 triliun pada periode Januari-Mei 2026, naik 9% secara tahunan (year-on-year/YoY), dibandingkan Rp71,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut telah sejalan dengan proyeksi laba sepanjang 2026.
Baca Juga
Kinerja hingga Mei Sesuai Ekspektasi, Intip Prospek dan Target Harga Saham BNI (BBNI) Ini
Pertumbuhan laba terbesar dicatatkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan kenaikan 19% menjadi Rp 23 triliun, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang tumbuh 10% menjadi Rp 20 triliun. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan kenaikan laba 2% menjadi Rp 25,7 triliun dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat laba Rp9,1 triliun atau bertumbuh 7% YoY.
“Secara bulanan, laba bersih empat bank besar pada Mei 2026 juga meningkat 12% dan 10% dibandingkan April 2026,” tulis analis MNC Sekuritas Victoria Venny dalam riset emiten perbankan, kemarin.
Dari sisi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII), dia mengatakan, empat bank besar ini mencetak agrefat pertumbuhan 7% YoY menjadi Rp 134,5 triliun. BBNI memimpin pertumbuhan NII dengan kenaikan 15% YoY menjadi Rp18,1 triliun, disusul BMRI yang naik 10% YoY menjadi Rp34,9 triliun, serta BBRI yang meningkat 7% YoY menjadi Rp 48,5 triliun.
Sementara itu, BBCA menjadi satu-satunya bank yang mengalami penurunan NII sebesar 1% YoY menjadi Rp 33 triliun, terutama akibat basis perbandingan yang tinggi pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sektor perbankan turun 21 basis poin menjadi 5,1% pada Mei 2026 akibat penurunan imbal hasil aset. Penurunan tersebut sebagian diimbangi oleh membaiknya biaya dana (cost of fund/CoF) yang turun 33 basis poin secara tahunan.
Kredit Bertumbuh
Kinerja intermediasi perbankan juga tetap menunjukkan tren positif. Total kredit empat bank besar tumbuh 15% YoY pada Mei 2026, dipimpin oleh BBNI yang mencatat pertumbuhan kredit 25% YoY menjadi Rp 940,9 triliun, disusul BMRI yang naik 21% YoY menjadi Rp 1.580 triliun.
Dana murah (CASA) meningkat 16% YoY menjadi Rp 4.112 triliun, sementara total dana pihak ketiga (DPK) naik 17% YoY menjadi Rp 5.583 triliun, sehingga rasio loan to deposit ratio (LDR) sektor turun menjadi 87,9% dari 88,8% pada Mei 2025.
Baca Juga
OJK Minta Bank Antisipasi Potensi Peningkatan NPL Kredit ke Kopdes Merah Putih
Dari sisi kualitas aset, biaya kredit (cost of credit/CoC) sektor tetap stabil di level 1,4%. BBCA masih mencatat CoC terendah sebesar 0,3%, sedangkan BMRI membaik menjadi 0,5%. Adapun CoC BBRI berada di level 3,4%, masih di atas target perusahaan.
“Meski demikian, tekanan biaya dana berpotensi kembali muncul seiring kenaikan suku bunga acuan di luar jadwal (off-cycle), yang dapat memberikan tekanan lanjutan terhadap NIM sektor perbankan,” tulisnya.
Secara industri, pertumbuhan kredit nasional juga meningkat menjadi 10,8% YoY pada Mei 2026, didorong oleh kredit modal kerja dan kredit investasi. Di sisi pendanaan, simpanan masyarakat tumbuh 10,8% YoY, dengan rekening giro melonjak 20,3% YoY, mencerminkan ketahanan dana murah perbankan.
Saham Menarik
Berdasarkan kinerja operasional dan keuangan yang tetap solid hingga Mei 2026 tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor perbankan. Saat ini, valuasi sudah mencerminkan sebagian besar risiko penurunan. Selain itu, imbal hasil dividen yang menarik serta kualitas kredit yang tetap stabil menjadi faktor pendukung prospek sektor ke depan.
Hal ini mendorong MNC Sekuritas menempatkan saham BBCA dan BMRI sebagai pilihan utama. Saham BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.700 per saham, didukung profil laba yang defensif, rasio LDR sebesar 77%, rasio CASA tertinggi di industri sebesar 85,1%, serta CoC yang rendah di level 0,3% sehingga dinilai lebih tahan menghadapi potensi kenaikan biaya pendanaan.
Saham BMRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.050 per saham, seiring momentum pertumbuhan laba yang paling kuat di antara bank besar, didukung pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP), perbaikan kualitas aset, serta ekspansi kredit yang tetap tinggi.
Saham BBRI, BBNI, hingga BRIS tetap menarik dengan potensi cuan pesat. MNC Sekuritas merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp4.050 per saham, BBNI dengan target Rp5.100 per saham, serta BRIS dengan target harga Rp3.000 per saham.
