Isu Akuisisi Tekan Saham BCA 2,3%, Analis: Fundamental Tetap Solid
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Isu mengenai rencana pemerintah mengambil alih kepemilikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dari Grup Djarum kembali mencuat dan memicu gejolak pasar. Isu ini bermula dari pernyataan Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN) yang juga ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sasmito Hadinegoro.yang meminta skandal BLBI yang berkaitan dengan BCA dibongkar dan diumumkan kepada publik, dan berujung pada usulan akuisisi 51% saham BCA.
Kabar tersebut langsung menekan saham BBCA yang pada perdagangan Selasa (19/8/2025) terkoreksi 2,30% ke level Rp8.500, sekaligus menyeret IHSG turun ke 7.800.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan di saham BBCA memiliki bobot besar terhadap pelemahan IHSG. Faktor lain seperti kekhawatiran stabilitas politik, pelemahan rupiah, dan aksi ambil untung pada saham perbankan turut memperdalam tekanan.
“Jika wacana pengambilalihan benar terjadi, risikonya cukup besar. Bagi BBCA, ketidakpastian bisa muncul terkait independensi manajemen dan arah bisnis apabila intervensi politik semakin kental,” ujar Hendra.
Senada, Reydi Octa, penggiat Pasar Modal Indonesia, menyebut penurunan saham BBCA dipicu sentimen isu pengambilalihan 51% saham oleh negara melalui Danantara. Menurutnya, kabar tersebut menimbulkan kekhawatiran investor terhadap potensi hilangnya independensi BCA sebagai bank swasta terbesar.
Meski demikian, Reydi menegaskan fundamental BBCA tetap kuat. Laba bersih semester I-2025 tercatat tumbuh 7,09% secara tahunan. “Penurunan harga saham lebih dipicu sentimen jangka pendek, bukan faktor internal. Potensi rebound masih cukup besar,” tegasnya.
Baca Juga
Hendra menambahkan, volatilitas IHSG diperkirakan meningkat mengingat besarnya bobot kapitalisasi BBCA. “Koreksi tajam kali ini justru bisa menjadi peluang. Secara teknikal, saham BBCA berpotensi menguji area Rp8.300 sebelum kembali ke resistance Rp9.000,” jelasnya.
Menariknya, meski harga saham terkoreksi, investor asing masih mencatatkan net buy Rp80 miliar, yang menandakan kepercayaan jangka panjang belum hilang. Hendra pun merekomendasikan strategi buy on weakness dengan target harga Rp9.200–Rp9.500.
Adapun arah IHSG ke depan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, perkembangan isu BLBI dan kebijakan pemerintah menjadi sorotan utama. Dari eksternal, pergerakan rupiah, suku bunga global, serta arus dana asing di sektor perbankan dan komoditas akan menjadi penentu.
“Secara teknikal, support IHSG berada di 7.750 dengan resistance di 7.950. Ruang koreksi masih ada, tetapi peluang rebound juga terbuka apabila sentimen positif kembali,” pungkas Hendra.

