IHSG Anjlok 34,73% di Semester I-2026, Bagaimana Prospek Semester II?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja terburuk sepanjang semester I-2026 setelah anjlok 34,73%. Pelemahan tersebut menjadi yang terdalam dibandingkan berbagai periode krisis yang pernah dialami pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 5.643 pada akhir perdagangan semester I-2026, turun dari posisi penutupan akhir 2025 di level 8.646. Penurunan tersebut melampaui koreksi semester I-2020 saat pandemi Covid-19 sebesar 22,13% maupun semester I-2008 ketika krisis keuangan global yang mencatat pelemahan sekitar 17%.
Pelemahan indeks juga diiringi derasnya arus keluar modal asing. Sepanjang semester I-2026, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) lebih dari Rp 73,60 triliun, sehingga semakin menekan pasar saham domestik.
Baca Juga
Semester I Kelam, IHSG Ambles 34,73% Disertai Kejatuhaan Saham Big Caps dan Net Sell Asing
Jika dihitung sejak pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2024, IHSG telah kehilangan 2.117 poin atau turun sekitar 27,28%, dari level 7.760 pada penutupan 18 Oktober 2024 menjadi 5.643 pada akhir semester I-2026.
Data BEI menunjukkan tekanan terbesar terhadap IHSG berasal dari pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), seperti DSSA, BREN, BBCA, BBRI, TLKM, TPIA, BRPT, FILM, AMMN, dan BMRI. Pelemahan makin dalam setelah MSCI menangguhkan daftar saham Indonesia.
Secara sektoral, seluruh sektor saham membukukan kinerja negatif. Sektor energi menjadi yang mengalami penurunan terdalam dengan pelemahan lebih dari 40% sepanjang semester I-2026, disusul sektor properti yang turun lebih dari 38% serta sektor infrastruktur yang terkoreksi lebih dari 35%.
Likuiditas Menyusut
Di tengah pelemahan IHSG, pasar modal juga menghadapi tantangan berupa menyusutnya likuiditas perdagangan. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai kondisi saat ini bukan sekadar koreksi harga saham, melainkan telah memasuki fase liquidity drying up atau pengeringan likuiditas pasar.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi harian di BEI turun tajam dalam waktu kurang dari dua pekan. Jika pada 19 Juni 2026 nilai transaksi masih sekitar Rp 26,5 triliun, maka pada 29 Juni 2026 hanya sekitar Rp 9,1 triliun atau menyusut lebih dari 65%.
Baca Juga
Investor Asing Lepas Saham Rp 73,6 Triliun Sepanjang Semester I-2026, BBCA Jadi Target Utama
Selain itu, volume perdagangan turun drastic dari sekitar 30,7 miliar lembar saham menjadi sekitar 14 miliar lembar saham, sedangkan frekuensi transaksi juga menurun hingga mendekati 1,2 juta kali.
Menurut Hendra, kondisi tersebut menunjukkan semakin sedikit dana yang berputar di pasar sehingga aktivitas perdagangan menurun dan jumlah investor aktif semakin berkurang. Akibatnya, kedalaman pasar menjadi lebih tipis sehingga harga saham lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah relatif kecil.
"Tidak mengherankan apabila volatilitas meningkat, sementara proses pemulihan pasar menjadi jauh lebih lambat dibandingkan ketika likuiditas masih melimpah," ujar Hendra, Selasa (30/6/2026).
Arus Keluar Dana Asing
Hendra mengatakan, salah satu faktor utama penyusutan likuiditas adalah derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Menurut dia, investor institusi asing selama ini merupakan salah satu kontributor terbesar nilai transaksi di BEI. Ketika investor asing secara konsisten melakukan aksi jual bersih, investor domestik belum mampu untuk menggantikan besarnya dana yang keluar sehingga aktivitas perdagangan menjadi jauh lebih sepi dibandingkan kondisi normal.
Baca Juga
Keputusan investor asing menarik dananya juga dipengaruhi kondisi ekonomi global. Tingkat suku bunga yang masih tinggi di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, membuat instrumen investasi berisiko rendah seperti obligasi pemerintah AS menawarkan imbal hasil yang menarik.
Dalam kondisi tersebut, banyak investor global memindahkan dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset yang dinilai lebih aman. "Pergeseran aliran modal inilah yang kemudian memberikan tekanan terhadap pasar saham domestik," kata Hendra.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi pertimbangan investor asing. Menurut Hendra, keuntungan investasi asing tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga dipengaruhi perubahan kurs.
Baca Juga
OJK Ungkap Skema Demutualisasi BEI, Private Deal Jadi Langkah Pertama
Ketika rupiah melemah, keuntungan investasi dapat tergerus bahkan berubah menjadi kerugian meskipun harga saham mengalami kenaikan. "Bahkan, dalam beberapa kondisi, investor tetap mengalami kerugian meskipun harga saham yang dimiliki naik," ujarnya.
Oleh karena itu, Hendra menilai tekanan terhadap rupiah sering kali mempercepat keputusan investor asing untuk mengurangi kepemilikan saham di Indonesia.
Masih Wait and See
Dari sisi domestik, Hendra menilai sentimen wait and see masih mendominasi perilaku investor.
Pelaku pasar disebut masih menunggu kepastian mengenai prospek pertumbuhan ekonomi nasional, arah kebijakan fiskal pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan moneter ke depan.
Menurut dia, ketidakpastian tersebut membuat sebagian besar investor memilih menahan dana dalam bentuk kas dibandingkan mengambil risiko berinvestasi pada aset yang volatil.
"Kondisi psikologis seperti ini lazim terjadi setelah pasar mengalami koreksi yang cukup dalam, karena investor cenderung lebih berhati-hati sebelum kembali meningkatkan eksposur investasinya," ungkap Hendra.
Kekhawatiran membeli terlalu dini atau catching a falling knife membuat aktivitas transaksi semakin berkurang. Kondisi ini membentuk lingkaran yang saling memperkuat, di mana rendahnya aktivitas perdagangan membuat pemulihan pasar menjadi semakin lambat.
Menunggu Katalis
Hendra mengatakan bahwa tidak ada pihak yang bisa memastikan kapan titik balik pasar akan terjadi, termasuk pada semester II tahun ini. Namun, secara historis, pemulihan likuiditas biasanya memerlukan sejumlah katalis yang mampu untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Katalis tersebut antara lain meredanya tekanan suku bunga global, stabilnya nilai tukar rupiah, kembalinya aliran dana asing ke pasar negara berkembang, membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik, meningkatnya kinerja emiten, serta valuasi saham yang semakin menarik sehingga mendorong aksi bargain hunting.
"Selama faktor-faktor tersebut belum muncul secara bersamaan, pasar berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan nilai transaksi yang relatif rendah," ujar Hendra.
Baca Juga
Di Balik Penempatan SAL ke Himbara, Mengapa DPR Sampai Turun Tangan?
Meski kondisi pasar masih penuh tekanan, Hendra menilai peluang investasi belum sepenuhnya tertutup. Dalam sejarah pasar modal, fase pelemahan likuiditas kerap menjadi awal terbentuknya fondasi pemulihan.
Saham-saham dengan fundamental kuat dinilai mulai diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik sehingga dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.
Strategi pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging dapat dipertimbangkan dengan tetap mengutamakan emiten yang memiliki fundamental sehat, arus kas kuat, tingkat utang terkendali, serta prospek pertumbuhan yang berkelanjutan. "Diversifikasi portofolio juga tetap menjadi langkah penting agar risiko investasi dapat terkelola dengan baik," tambahnya.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Bagikan Dividen Rp 2,08 Triliun, Nilai per Saham Segini
Sementara itu, bagi trader jangka pendek, Hendra mengingatkan agar lebih berhati-hati. Likuiditas yang tipis membuat pergerakan harga lebih mudah mengalami false breakout maupun whipsaw, sehingga sinyal teknikal menjadi kurang dapat diandalkan.
Ia menyarankan trader memperkecil ukuran transaksi, menerapkan manajemen risiko yang lebih disiplin, menggunakan batas kerugian (stop loss), serta menunggu konfirmasi peningkatan volume sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.
Hendra menegaskan bahwa dalam fase seperti ini, menjaga modal sering kali lebih penting dibandingkan memaksakan mencari keuntungan jangka pendek. "Ingat, sejarah menunjukkan bahwa pasar yang terlihat paling sepi sering kali justru menjadi awal terbentuknya momentum kebangkitan berikutnya bagi investor yang mampu berpikir jangka panjang," pungkas Hendra.
