Bank Mandiri (BMRI) Tancap Gas! Laba dan Kredit Tumbuh Dua Digit, Bagaimana Target Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat kinerja positif hingga lima bulan pertama 2026. Laba bersih bank only mencapai Rp23,3 triliun pada periode Januari-Mei 2026, tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Analis MNC Sekuritas Victoria Venny dalam riset terbarunya mengatakan, realisasi tersebut setara sekitar 40% dari proyeksi laba tahun penuh 2026 dan dinilai masih sejalan dengan ekspektasi pasar. Pertumbuhan laba ditopang oleh kenaikan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar 14% secara tahunan menjadi Rp31,9 triliun, serta penurunan beban provisi sebesar 16%.
Pencapaian tersebut mendorong MNC Sekuritas untuk mempertahankan kembali rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 6.040. Dengan harga penutupan saham Rp 4.200, BMRI buka potensi kenaikan lebih dari 44%.
Baca Juga
Saham Big Caps Mengamuk, IHSG Catat Kenaikan Mingguan Tertinggi di Dunia
Pada Mei 2026 saja, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp5,3 triliun atau meningkat 18% dibandingkan Mei 2025 maupun bulan sebelumnya. Kinerja tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan laba yang tetap terjaga memasuki kuartal II-2026.
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 10% secara tahunan menjadi Rp34,9 triliun. Sementara itu, pendapatan nonbunga meningkat 12% menjadi Rp14,8 triliun, didukung ekspansi bisnis yang berlanjut.
Kinerja intermediasi menjadi salah satu sorotan utama. Total kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.580 triliun pada Mei 2026, melonjak 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan tumbuh 2% secara bulanan. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan kredit sebesar 16% pada kuartal I-2026.
Baca Juga
Akselerasi penyaluran kredit tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan yang tetap kuat di tengah kondisi likuiditas domestik yang lebih ketat.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.716 triliun atau meningkat 22% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut mendukung ekspansi neraca dan menjaga kemampuan perseroan dalam menyalurkan kredit.
Komposisi pendanaan murah juga tetap terjaga. Saldo current account savings account (CASA) mencapai Rp1.223 triliun atau tumbuh 12% secara tahunan dan 4% dibandingkan bulan sebelumnya. Rasio CASA berada di level 71,2%.
Meskipun lebih rendah dibandingkan rasio CASA 77,6% pada periode yang sama tahun lalu, posisi tersebut dinilai telah stabil dalam beberapa bulan terakhir di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat. Stabilitas CASA diharapkan mampu meredam tekanan biaya dana dan menopang margin bunga ke depan.
Baca Juga
Elon Musk Cetak Sejarah! Kekayaan US$ 1,1 Triliun Lampaui 7,3 Kali Market Cap BEI
Dari sisi profitabilitas, net interest margin (NIM) tahunan berada di level 4,2% pada Mei 2026, tidak berubah dibandingkan April 2026 meski terdapat tekanan repricing simpanan. Sementara itu, beban provisi turun menjadi Rp3,2 triliun sehingga cost of credit (CoC) tahunan berada di level 0,5%, masih di bawah panduan manajemen untuk tahun 2026.
Selain itu, pemegang saham telah menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp1,17 triliun yang akan dilaksanakan dalam waktu 12 bulan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Nilai buyback tersebut setara sekitar 0,8% dari kapitalisasi pasar Bank Mandiri.
Program tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kondisi permodalan yang kuat serta prospek pertumbuhan laba jangka panjang. Meski dampaknya terhadap proyeksi laba dinilai terbatas, buyback berpotensi memberikan tambahan dukungan terhadap imbal hasil pemegang saham di samping profil dividen yang tetap menarik.
