JFX Beberkan Komoditas Potensial di Tengah Konflik Global hingga Peluang Indonesia Jadi Hub Derivatif ASEAN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) memetakan beberapa kelompok komoditas yang paling berpotensi mengalami lonjakan volatilitas dan menjadi perhatian utama pelaku pasar, apabila konflik global terus berlanjut hingga akhir tahun.
Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya memaparkan, kelompok komoditas energi, emas, dan logam industri berpotensi tetap menjadi fokus pasar. Dia memprediksi, harga komoditas energi, minyak mentah atau Brent Crude Oil akan menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
“Mengingat, sebagian besar ketegangan saat ini berkaitan dengan kawasan yang memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dunia,” jelasnya.
Dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust di kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026), Kanca juga menyebut komoditas emas juga akan tetap diperhatikan pasar, karena secara historis sering dianggap sebagai safe haven pada saat ketidakpastian meningkat. Kendati demikian, Kanca memberi catatan bahwa status safe haven tak memastikan harga suatu aset akan selalu naik.
Baca Juga
Redam Dampak Tensi Geopolitik, JFX Perkuat Instrumen Lindung Nilai dan Rilis Kontrak Minyak Mentah
Pasalnya, pergerakan emas tetap dipengaruhi berbagai faktor seperti kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, likuiditas pasar, serta dinamika permintaan dan penawaran.
Sementara itu, logam dan komoditas berbasis industri juga berpotensi mengalami volatilitas tinggi. Hal ini dikarenakan pergerakan rumpun komoditas tersebut sangat dipengaruhi perkembangan perdagangan global, aktivitas manufaktur, serta kebijakan ekonomi yang diterapkan berbagai negara.
“Karena itu menurut saya yang lebih penting bukan mencari komoditas mana yang pasti menjadi pemenang, tetapi memahami karakteristik masing-masing instrumen dan bagaimana mengelola risiko yang melekat pada instrumen tersebut,” paparnya.
Pusat Perdagangan Derivatif ASEAN
Dalam kesempatan yang sama, Kanca mengutarakan potensi besar Indonesia untuk menjadi salah satu pusat perdagangan derivatif di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia menggarisbawahi bahwa cita-cita ini bukan sesuatu yang bisa dicapai dalam waktu singkat karena membutuhkan penguatan ekosistem secara menyeluruh.
Mengenai potensi tersebut, Indonesia dinilai memiliki beberapa keunggulan fundamental yang sangat kuat. Keunggulan pertama adalah status Indonesia sebagai produsen utama berbagai komoditas strategis dunia, mulai dari timah, minyak sawit, hingga berbagai komoditas mineral lain sebagai fondasi penting bagi perkembangan pasar derivatif nasional.
Keunggulan kedua adalah kepemilikan pasar domestik yang besar dengan jumlah pelaku usaha dan investor yang terus berkembang. Alhasil, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan investasi, kebutuhan terhadap instrumen manajemen risiko juga dipercaya akan semakin besar.
Baca Juga
Konflik Geopolitik Picu Volatilitas Komoditas, Transaksi Olein dan Emas di JFX Melonjak
Faktor ketiga yang turut memperkuat peluang besar dimaksud adalah adanya agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Ketika rantai nilai komoditas semakin panjang dan industri pengolahan semakin berkembang, maka kebutuhan terhadap mekanisme pembentukan harga (price discovery) dan pengelolaan risiko diyakini menjadi semakin tinggi.
“Karena itu saya melihat peluang Indonesia bukan hanya menjadi pasar perdagangan komoditas, tetapi juga memiliki peran yang lebih besar dalam price discovery dan pengembangan instrumen derivatif yang berbasis kekuatan komoditas nasional,” ucap Kanca.
Sebagai bursa berjangka pertama dan terbesar di Indonesia, JFX melihat bahwa cita-cita tersebut harus didukung oleh pasar yang semakin likuid, transparan, dan terintegrasi dengan ekosistem global. Hal ini diupayakan melalui penguatan kerja sama internasional, pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, serta memperluas partisipasi pelaku usaha dan investor.
“Agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen komoditas dunia, tetapi juga memiliki peran yang lebih besar dalam perdagangan dan pembentukan harga komoditas tersebut,” pungkasnya

