Konflik Geopolitik Picu Volatilitas Komoditas, Transaksi Olein dan Emas di JFX Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan geopolitik global yang terus memanas, mulai dari konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, memburuknya relasi Iran-Amerika Serikat, hingga tensi perdagangan antarnegara, telah memicu tingginya volatilitas harga energi dan komoditas strategis.
Menyikapi dinamika tersebut, Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya menilai, situasi ini justru membuat instrumen perdagangan berjangka di Indonesia menjadi semakin krusial.
Menurut Kanca biasa ia disapa, rentetan krisis global tersebut memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap aktivitas perdagangan di bursa. Pelaku pasar kini dihadapkan pada iklim ketidakpastian yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya.
“Dalam situasi seperti ini, kebutuhan terhadap instrumen lindung nilai atau hedging menjadi semakin penting. Di sinilah peran perdagangan berjangka menjadi makin relevan, baik bagi pelaku usaha yang ingin mengelola risiko harga maupun bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio,” ungkapnya dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust di kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Baca Juga
Perdagangan Olein di JFX Melonjak 267%, Nilai Transaksi Capai Rp 6,48 Triliun
Tingginya kesadaran pasar terhadap pengelolaan risiko tersebut, tercermin dari meningkatnya minat transaksi pada berbagai instrumen komoditas yang diperdagangkan di JFX. Produk-produk utama seperti timah, olein, emas, hingga energi menunjukkan tren pergerakan yang sangat dinamis dan positif.
Sepanjang Januari-Mei 2026, Kanca mengemukakan bahwa kontrak olein 100 kilogram (kg) berhasil mencatatkan volume transaksi hingga hampir 240 ribu lot. Pencapaian fantastis ini mengukuhkan kontrak perdagangan komoditas olein sebagai salah satu produk multilateral (on exchange traded) dengan aktivitas paling tinggi di JFX.
Tidak hanya itu, pesona emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) juga mendongkrak transaksi di bursa berjangka ini. “Berbagai kontrak emas menunjukkan aktivitas yang sangat kuat dengan total volume melampaui 190 ribu lot. Hal ini menunjukkan bukti nyata bahwa pelaku pasar semakin aktif memanfaatkan mekanisme bursa untuk mengelola risiko sekaligus merespons cepat perkembangan pasar global,” tambah Kanca.
Baca Juga
JFX Kantongi Izin BI sebagai Penyelenggara Bursa Derivatif PUVA
Melihat tingginya animo dan fungsi strategis bursa saat ini, ia menegaskan bahwa kondisi ketidakpastian global justru menggarisbawahi urgensi hadirnya ekosistem pasar berjangka yang terpercaya.
Keberadaan pasar berjangka yang transparan, teratur, dan memiliki mekanisme pembentukan harga yang kredibel, dinilai sebagai sebuah fondasi ekonomi yang tidak bisa ditawar.
Kanca pun meyakini, perdagangan berjangka akan mengambil peran yang semakin esensial di tengah gejolak volatilitas yang masih akan membayangi dunia. Terutama peran dalam mendukung pengelolaan risiko rantai pasok komoditas, serta menjaga stabilitas ekosistem pasar keuangan nasional secara keseluruhan.

