Indonesia Siap Jadi Hub Energi ASEAN dengan Peluang Investasi Rp 600 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, Indonesia harus siap berperan sebagai negara penghubung (hub) energi di kawasan ASEAN. Sebab, kebutuhan energi listrik di negara-negara Asia Tenggara diproyeksikan akan meningkat pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah telah memetakan peluang investasi sebesar Rp 600 triliun, yang tidak hanya datang dari sektor pemerintah, tetapi sektor swasta.
Menurutnya, dibutuhkan kerja sama interkoneksi kelistrikan antarnegara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Maka dari itu, Indonesia juga berkomitmen untuk menyukseskan kerja sama yang dinamakan ASEAN Power Grid (APG) ini.
“Adanya integrasi antar-grid di ASEAN, dari sisi petanya kita sudah melihat bahwa ini bisa dilakukan karena kebutuhan energi untuk ASEAN ke depan itu akan terjadi peningkatan. Dengan peningkatan signifikan, Indonesia harus siap menjadi hub energi untuk ASEAN," ujar Yuliot seusai gelaran 43rd ASEAN Minister on Energy Meeting (AMEM) & Associated Meeting di Kuala Lumpur Malaysia, Jumat (17/10/2025).
Baca Juga
93 KK di Kampung Nelayan Indramayu Dapat Sambungan Listrik Gratis dari PLN
Indonesia sebenarnya sudah melakukan kerja sama interkoneksi kelistrikan dengan Malaysia. Impor listrik dari Malaysia sudah dilakukan untuk Pulau Kalimantan yang berdekatan dengan perbatasan kedua negara. Yuliot mengatakan total impor energi listrik dari Malaysia sekitar 200 megawatt (MW). "Ini kan sudah berjalan dan juga ini lagi perpanjangan perizinan dan itu juga kita lakukan fasilitasi," terang dia.
Yuliot menyatakan, integrasi kelistrikan di negara ASEAN akan didukung melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) bahwa dalam 10 tahun ke depan akan dibangun 48.000 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi. Ini merupakan kebutuhan jaringan transmisi untuk nasional dan integrasi dengan ASEAN.
Untuk kerja sama power grid, pemerintah telah memetakan peluang investasi sebesar Rp 600 triliun, yang tidak hanya datang dari sektor pemerintah, tetapi sektor swasta.
"Kebutuhan investasi kita sudah petakan, total investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 600 triliun. Itu tentu bukan hanya dari pemerintah tetapi bagaimana kita mendorong swasta untuk bisa berinvestasi di national grid dan juga bagaimana integrasi antar-ASEAN. Jadi ini kita membuka peluang investasi untuk itu," ujar Yuliot.
Sementara, pada intervensi Indonesia di 43rd AMEM, Yuliot menyampaikan bahwa transisi energi di Asia Tenggara harus dijalankan dengan adil, teratur, dan inklusif, dengan mempertimbangkan kondisi nasional negara-negara anggota ASEAN.
Baca Juga
Jelang Akhir Insentif Kendaraan Listrik, OJK Sebut Jadi Momentum Dorong Pembiayaan 'Multifinance'
Kondisi lintas sektoral antara energi, ekonomi, dan lingkungan akan sangat penting untuk memastikan bahwa kebijakan energi Indonesia selaras dan mendukung ASEAN Community Vision 2045. "Indonesia juga mendorong upaya transisi energi yang terus memprioritaskan ketahanan dan keterjangkauan energi, di samping keberlanjutan. Sehingga tidak ada negara anggota yang tertinggal," sambungnya.

