Penasihat Danantara Ray Dalio Versus Penulis Buku Robert Kiyosaki Perdebatkan Bitcoin Sebagai Aset 'Safe Haven'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perdebatan mengenai posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai (safe haven) kembali mengemuka setelah dua investor global, Robert Kiyosaki dan Ray Dalio, menyampaikan pandangan yang bertolak belakang terhadap prospek aset kripto terbesar tersebut.
Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, justru memperkuat pandangannya bahwa Bitcoin merupakan salah satu aset terbaik untuk menghadapi potensi krisis ekonomi global pada 2026. Sebaliknya, Dalio yang merupakan salah satu Dewan Penasihat BPI Danantara sekaligus pendiri Bridgewater Associates menilai Bitcoin belum layak disebut sebagai safe haven karena volatilitas tinggi, korelasi dengan saham teknologi, serta keterbatasan likuiditas dan privasi.
Dalam pernyataan terbarunya, Kiyosaki memperingatkan potensi pecahnya “Everything Bubble” yang menurutnya dipicu tingginya utang Amerika Serikat yang kini mencapai sekitar US$ 39 triliun. Ia menilai sistem keuangan global semakin rapuh akibat ketergantungan terhadap uang fiat dan ekspansi utang yang terus meningkat.
Menurut Kiyosaki, kondisi tersebut membuat aset riil seperti Bitcoin, emas, dan perak menjadi pilihan utama untuk melindungi kekayaan dari inflasi dan pelemahan nilai dolar AS.
“Bitcoin dan perak adalah aset utama saya untuk menghadapi crash besar berikutnya,” tulis Kiyosaki dilansir dari BeInCrypto, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga
Robert Kiyosaki Sempat Jual Bitcoin Miliknya, Ini Pandangan Terbarunya Soal Prospek BTC
Ia menilai Bitcoin memiliki keunggulan karena suplai yang terbatas sehingga lebih tahan terhadap inflasi dibandingkan mata uang fiat. Selain Bitcoin, Kiyosaki juga bullish terhadap perak karena memiliki fungsi sebagai aset lindung nilai sekaligus kebutuhan industri seperti panel surya, kendaraan listrik, baterai, dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pendukung Bitcoin seperti Ketua Eksekutif Strategy, Michael Saylor, menilai performa Bitcoin masih mengungguli emas jika diukur menggunakan rasio Sharpe atau indikator imbal hasil terhadap risiko sejak 2020.
Sedangkan Ray Dalio, dalam unggahan di platform X pada 11 Mei 2026 menilai Bitcoin belum menunjukkan karakteristik safe haven seperti emas.
Dalio menyoroti penurunan harga Bitcoin sekitar 20% sepanjang kuartal I 2026 ketika emas relatif stabil. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan Bitcoin masih bergerak seperti aset spekulatif berisiko tinggi dibandingkan instrumen perlindungan nilai saat pasar bergejolak.
“Korelasi Bitcoin dengan saham teknologi menunjukkan aset ini masih diperlakukan seperti taruhan berisiko tinggi, bukan emas digital,” tulis Dalio dilansir dari CryptoBriefing, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga
Penasihat Danantara Ray Dalio Sebut Kripto Makin Terlihat Menarik, Jikalau....
Ia menjelaskan bahwa ketika investor institusi menghadapi tekanan likuiditas atau margin call, Bitcoin justru dijual bersamaan dengan saham teknologi seperti Nasdaq, bukan dipertahankan seperti emas atau obligasi pemerintah.
Selain volatilitas, Dalio juga menilai ukuran kapitalisasi pasar Bitcoin yang berada di kisaran US$ 1,2 triliun masih terlalu kecil dibandingkan emas yang mencapai sekitar US$ 33 triliun. Menurut dia, kondisi tersebut membuat Bitcoin belum cukup likuid untuk dijadikan aset cadangan dalam skala besar oleh bank sentral.
Dalio turut menyoroti transparansi blockchain Bitcoin sebagai kelemahan struktural karena seluruh transaksi dapat dilacak secara publik. Hal itu dinilai kurang ideal bagi negara atau institusi yang ingin melindungi cadangan aset dari risiko geopolitik.
Meski mengkritik Bitcoin, Dalio seperti diketahui sempat mengaku memiliki eksposur BTC sekitar 1% dari total portofolionya.

