Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Kunci Keuangan Digital Global Dipicu Adopsi Stablecoin yang Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Seiring tingginya tingkat adopsi kripto dan stablecoin di dalam negeri, Indonesia dinilai aka memainkan peran penting dalam sistem keuangan digital global.
CEO Circle Jeremy Allaire menyampaikan optimisme tersebut setelah melakukan kunjungan ke Jakarta dan bertemu dengan berbagai pelaku industri teknologi serta keuangan.
“Saya semakin yakin bahwa Indonesia akan memainkan peran yang semakin besar dalam sistem keuangan global. Saat ini pun Indonesia sudah menunjukkan tingkat adopsi kripto dan stablecoin yang sangat tinggi,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga
RUU Kripto Senat AS Buntu, Bank dan Industri Kripto Berselisih soal Imbal Hasil Stablecoin
Meski saat ini sebagian besar stablecoin masih berbasis dolar Amerika Serikat (AS), lanjut Jeremy, teknologi tersebut memiliki potensi yang jauh lebih luas. Konsep programmable money dinilai dapat diterapkan pada berbagai mata uang, termasuk mata uang lokal seperti rupiah.
Menurutnya, hal ini membuka peluang pengembangan stablecoin berbasis mata uang lokal tanpa harus mengorbankan kedaulatan moneter. Meski begitu, Circle belum memiliki rencana untuk meluncurkan stablecoin rupiah secara langsung.
“Kami belum memiliki rencana untuk meluncurkan stablecoin rupiah, namun terbuka untuk bekerja sama dengan mitra lokal yang ingin mengembangkan solusi tersebut, termasuk integrasi dengan sistem pembayaran seperti QRIS,” kata Jeremy.
Baca Juga
Penggunaan stablecoin sendiri terus menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat, khususnya di negara berkembang. Data Stablecoin Utility Report 2026 yang dirilis BVNK menunjukkan, kepemilikan stablecoin di negara berpendapatan rendah dan menengah mencapai 60%, lebih tinggi dibanding negara maju sebesar 45%.
Selain itu, lebih dari separuh pengguna (56%) berencana menambah kepemilikan stablecoin dalam 12 bulan ke depan. Laporan tersebut juga mencatat, sekitar 35% pendapatan freelancer dan pelaku ekonomi digital kini diterima dalam bentuk stablecoin, sementara 73% pekerja lintas negara mengaku teknologi ini meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja secara global.
Dari sisi efisiensi, pengguna stablecoin dapat menghemat hingga 40% biaya transaksi dibandingkan metode pembayaran tradisional.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai tren ini menjadi peluang besar bagi Indonesia sebagai salah satu pasar utama di Asia Tenggara. “Tingginya adopsi kripto, populasi digital yang semakin besar, serta kebutuhan akan transaksi lintas negara yang lebih efisien menjadi faktor pendorong utama,” ucapnya.
Stablecoin berbasis dolar AS, kata dia, saat ini menjadi aset kripto yang paling banyak ditransaksikan di Indonesia. Kondisi tersebut didorong oleh kebutuhan pengguna terhadap instrumen yang lebih stabil di tengah volatilitas pasar kripto.
“Stablecoin berbasis dolar AS menjadi salah satu aset yang paling aktif ditransaksikan. Hal ini karena pengguna membutuhkan instrumen yang lebih stabil untuk lindung nilai, sekaligus mempermudah transaksi lintas negara,” ujar Calvin.
Menurutnya, stablecoin kini berperan sebagai jembatan likuiditas dalam aktivitas trading, sekaligus alat pembayaran global yang lebih cepat dan efisien dibanding sistem konvensional.
“Stablecoin juga mempermudah pengguna untuk keluar masuk pasar kripto tanpa harus kembali ke sistem perbankan konvensional. Ini yang membuatnya sangat relevan, baik untuk trader maupun pelaku bisnis digital,” kata Calvin.
Ke depan, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemain global dan lokal untuk mempercepat pengembangan ekosistem. Integrasi dengan sistem pembayaran domestik seperti QRIS dinilai berpotensi mendorong adopsi lebih luas, khususnya di sektor ritel serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

