IMF Soroti Ekspansi Bank Global ke 'Stablecoin', Peringatkan Risiko ke Sistem Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar stablecoin senilai US$ 305 miliar dapat mengancam pinjaman tradisional, menghambat kebijakan moneter, dan memicu penarikan besar-besaran (rush) beberapa aset teraman di dunia. Demikian terungkap dalam peringatan Dana Moneter Internasional (IMF), Selasa (14/10/2025).
Biasanya dipatok pada nilai mata uang fiat dengan dukungan aset likuid seperti US Treasury, stablecoin merupakan bagian yang kurang volatil di dunia mata uang kripto. Namun, pertumbuhan sektor ini yang pesat dan meningkatnya hubungannya dengan keuangan arus utama telah memicu serangkaian peringatan dari regulator dan pengawas.
“Karena stablecoin mungkin berisiko, penjualan aset cadangan mereka seperti simpanan tunai bank dan surat berharga pemerintah dapat meluas ke simpanan bank dan pasar obligasi pemerintah serta repo. Hal ini dapat meningkatkan volatilitas dan memerlukan intervensi bank sentral," tulis para ahli dari IMF dalam laporan stabilitas keuangan semi-tahunan dilansir dari Bloomberg, Rabu (15/10/2025).
Baca Juga
ABI: 'Stablecoin' dan Tokenisasi Aset Bisa Jadi Sumber Likuiditas Baru untuk Negara
Peringatan IMF ini muncul seiring dengan semakin luasnya ekspansi perbankan dan lembaga keuangan lainnya dalam aktivitas stablecoin mereka, menyusul disahkannya Undang-Undang Genius AS, yang menetapkan kerangka regulasi baru untuk token tersebut. Total nilai pasar stablecoin telah melonjak tahun ini, melampaui US$ 300 miliar, menurut data dari DefiLlama.
Sekelompok bank internasional, termasuk Goldman Sachs Group Inc., Deutsche Bank AG, dan Banco Santander, mengumumkan rencana pada akhir pekan lalu untuk bersama-sama menjajaki penerbitan mata uang digital berbasis cadangan devisa 1:1 di blockchain publik. Citigroup Inc juga bergabung dengan sembilan lembaga pemberi pinjaman Eropa yang mengembangkan stablecoin berbasis euro yang teregulasi.
Dalam laporan IMF disebutkan bahwa stablecoin juga dapat mengganggu kebijakan moneter, karena negara-negara akan memiliki lebih sedikit kekuatan untuk menggunakan suku bunga guna mengendalikan inflasi jika token yang terkait dengan dolar menjadi mata uang alternatif. "Mereka juga dapat mengubah struktur pasar obligasi dengan mendorong preferensi terhadap jenis utang tertentu, yang berimplikasi pada pinjaman tradisional," tulis IMF.
Baca Juga
Para pejabat menambahkan bahwa jika terjadi adopsi yang luas, setiap hilangnya paritas dengan mata uang referensi juga akan menimbulkan kerugian langsung dan meningkatkan ketidakpastian pada basis pengguna yang besar. Ethereum, stablecoin terbesar ketiga, sempat kehilangan patokan dolarnya selama akhir pekan karena pasar kripto berfluktuasi secara liar.
Dewan Stabilitas Keuangan juga menyebut stablecoin sebagai ancaman yang muncul minggu ini, dan berjanji untuk meningkatkan pengawasan. Pengawas lain, termasuk Bank of International Settlements, Bank Sentral Eropa, dan Komisi Sekuritas Internasional, sebelumnya telah memperingatkan tentang risiko tersebut.

