Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS ke Posisi Rp 16.932 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (27/3/2026). Rupiah melemah 28 poin atau 0,17% dan bertengger di posisi Rp 16.932 per US$.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya sejumlah mata uang negara mitra dagang. Yen Jepang menguat 0,16%, won Korea Selatan menguat 0,19%, baht Tailan menguat 0,23%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 7,95 bps ke 4,41% setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat waktu untuk menyerang infrastruktur energi Iran selama 10 hari di tengah negosiasi yang masih berlangsung dengan Teheran.
Trump juga mengatakan Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz pekan ini sebagai “hadiah” untuk AS. Sementara itu, Iran mengonfirmasi telah menolak rencana 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang dan mengajukan persyaratannya sendiri, termasuk pengakuan atas otoritas Teheran di Selat Hormuz.
Indeks DXY menguat ke 99,9, mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut, seiring investor terus mencermati perkembangan di Timur Tengah dan implikasinya terhadap harga minyak, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Rupiah Berhasil Menguat di Tengah Pelemahan Mata Uang Negara Mitra Dagang
Selain itu, meningkatnya keraguan terhadap kemungkinan berakhirnya perang dengan Iran dalam waktu dekat turut membebani sentimen, setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak akan berkomitmen pada kesepakatan untuk mengakhiri konflik selama Teheran menunjukkan sedikit kemauan untuk berkompromi.
“Gangguan yang terkait dengan konflik telah mendorong harga energi lebih tinggi, memperkuat kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun ini,” ujar Andry.
Harga ekspor AS melonjak 1,5% secara bulanan pada Februari 2026, jauh melampaui perkiraan 0,5% dan menjadi kenaikan tertajam sejak Mei 2022. Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan 1,7% pada ekspor non-pertanian, termasuk pasokan industri, barang konsumsi, barang modal, dan produk otomotif.
S&P Global US Services PMI turun ke 51,1 pada Maret 2026 dari 51,7 pada bulan sebelumnya, sedikit di bawah median konsensus pasar 51,1. Ini mencerminkan laju ekspansi paling lemah di sektor tersebut dalam sebelas bulan terakhir berdasarkan pembacaan awal (preliminary). Pesanan baru tumbuh lebih lambat, dengan perlambatan baik pada pesanan domestik maupun luar negeri.

