Harga Minyak Sempat Tembus US$ 100 per Barel, Kadin Waspadai Risiko Defisit APBN dan Dorong Elektrifikasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global dinilai menjadi risiko serius bagi stabilitas fiskal Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengingatkan bahwa volatilitas harga energi global perlu diwaspadai karena berpotensi menekan anggaran negara.
Anindya mengatakan dinamika geopolitik saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut memicu gejolak harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.
“Secara geopolitik kita lihat memang penuh tantangan. Bahkan di Bulan Suci ini pun kita melihat situasi yang sangat miris dengan adanya perang di Timur Tengah,” ujar Anindya di kantor LKPP, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut dia, pasar energi global sempat dikejutkan dengan lonjakan harga minyak yang menembus level sangat tinggi hinga hampir mencapai US$ 130 per barel dalam waktu singkat. Meski demikian, harga minyak dunia kemudian kembali terkoreksi dan saat ini masih berada pada kisaran US$ 80 per barel.
“Alhamdulillah sudah turun kembali, masih tinggi di US$ 80-an, tapi kita tahu setiap kita naik US$ 10 di atas asumsi US$ 70, itu kurang lebih Rp 100 triliun tambahan defisit, di atas Rp 600 triliun yang sudah ada. Jadi memang patut kita waspadai,” jelas Anindya.
Kendati demikian, Anindya melihat pemerintah bergerak cepat dalam merespons dinamika tersebut, termasuk dengan melakukan langkah-langkah efisiensi dalam pengelolaan energi nasional.
Baca Juga
Potensi Pengadaan Pemerintah Rp 1.500 Triliun, LKPP dan Kadin Luncurkan ICEF–IPFE 2026
Selain efisiensi, Anindya menilai percepatan elektrifikasi energi oleh pemerintah juga menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.
“Saya lihat pemerintah bergerak cepat dan mencari jalan untuk melakukan efisiensi di mana-mana. Dan juga fokus kepada elektrifikasi yang saya lihat bagus untuk mengurangi impor bahan bakar,” sebutnya.
Sebelum ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan pasokan energi nasional tetap aman meski harga minyak dunia mengalami lonjakan akibat konflik geopolitik global.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

