Indonesia Swasembada Beras 2025: Produksi Lampaui Kebutuhan Hingga 34,69 Juta Ton
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah melalui Kantor Staf Presiden (KSP) mengeklaim Indonesia berhasil mencapai swasembada beras setelah produksi nasional melampaui kebutuhan domestik pada 2025. Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, mengatakan keberhasilan tersebut diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026.
Menurut Qodari, capaian ini merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, melampaui kebutuhan domestik sekitar 31,08 juta ton. Angka tersebut juga meningkat signifikan dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.
“Artinya ada peningkatan sekitar 13,36 persen atau sekitar 4 juta ton pada 2025. Ini menjadi momen penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia,” kata Qodari dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
KSP menekankan pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan swasembada pangan dengan meningkatkan produksi, memperkuat hilirisasi pertanian, serta memperluas pasar ekspor produk pangan nasional.
Baca Juga
Panen Raya Maju Lebih Cepat, Stok Beras Ditargetkan Capai 4 Juta Ton
Qodari menjelaskan, salah satu indikator meningkatnya kapasitas produksi adalah mulai dilakukannya ekspor beras. Indonesia tercatat mengekspor 2.280 ton beras ke Arab Saudi dengan nilai transaksi sekitar Rp38 miliar. Ekspor tersebut secara simbolis dilepas oleh Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, di Gedung Bulog Kelapa Gading, Jakarta, pada 4 Maret 2026 lalu.
Selain beras, pemerintah juga mencatat peningkatan produksi sejumlah komoditas strategis lainnya pada 2025. Produksi jagung mencapai 16,16 juta ton, meningkat 6,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara produksi gula konsumsi nasional naik menjadi 2,68 juta ton.
Adapun produksi cabai besar mencapai 1,6 juta ton dan cabai rawit 1,78 juta ton, yang juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Qodari menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian dan memberikan dukungan kepada petani.
Ia mencontohkan pengalaman seorang petani bernama Misbah di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Petani berusia 60 tahun tersebut mampu menjual 6 ton gabah kering panen dengan harga Rp7.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga patokan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Dengan harga tersebut, Misbah dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp42 juta per hektare. Selain harga gabah yang menguntungkan, petani juga merasakan dampak dari ketersediaan pupuk bersubsidi yang stabil.
Harga pupuk subsidi untuk jenis urea tercatat sekitar Rp1.800 per kilogram, sementara pupuk NPK Rp1.840 per kilogram, atau turun sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
Prabowo Bangun Lumbung Pangan hingga Desa, Stok Beras Nasional Capai 144% Kebutuhan
Menurut Qodari, berbagai program penguatan sektor pangan yang dijalankan pemerintah merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengantisipasi potensi krisis global.
Presiden Prabowo, kata dia, sejak lama menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama keberlangsungan negara.
“Tanpa pangan tidak ada negara. Karena itu berbagai program ketahanan pangan dirancang sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi krisis, baik krisis bencana maupun gejolak global,” ujar Qodari.
Ia menambahkan, penguatan sektor pangan menjadi penting di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik regional yang dapat memengaruhi rantai pasok pangan dunia. Dengan fondasi produksi yang kuat dan cadangan yang memadai, pemerintah optimistis Indonesia mampu menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi ke depan.

