Keluar dari Tekanan, Rupiah Menguat Terhadap Mata Uang Paman Sam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan Selasa sore (3/2/2026). Rupiah menguat sebesar 0,14% menjadi Rp 16.777 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar mengamati perkembangan dan dinamika dialog Iran dengan AS. Presiden AS, Donald Trump mengatakan Iran “serius berdiskusi” dengan Washington mengenai nuklir. Agenda diplomatik digelar di Turki.
Pembicaraan dengan AS perlu terus dilanjutkan untuk mengamankan kepentingan nasional Iran.
Di bidang perdagangan, Trump mengumumkan kesepakatan dengan India yang memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18% dari ancaman awal 50%. Ancaman diberikan karena sebagai “hukuman” atas India yang membeli minyak Rusia.
Trump mengumumkan kesepakatan itu di media sosial setelah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan mencatat bahwa India telah setuju untuk membeli minyak dari AS dan mungkin juga Venezuela.
Baca Juga
Rupiah dan Mata Uang Negara Mitra Dagang Menguat Terhadap Dolar AS
Kemudian, Trump menominasikan mantan gubernur the Federal Reserve, Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar.
Warsh dikenal mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah. Akan tetapi, dia juga mengkritik aktivitas pembelian aset Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil– tema yang dapat membuat kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun mendatang.
S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025.
Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru.
Sejalan dengan permintaan baru yang terus bertumbuh, produksi naik pada bulan Januari. Output naik selama tiga bulan berjalan dan merupakan yang tercepat kedua dalam 11 bulan.
S&P melihat kenaikan kebutuhan produksi dan kondisi permintaan yang membaik. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk menaikkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut.
Perusahaan juga melaporkan upaya menaikkan inventaris pra dan pasca produksi untuk mempersiapkan kenaikan produksi di tengah permintaan yang terus naik.

