BI Tahan BI Rate di Level 4,75% pada RDG Februari 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75%. Keputusan ini bagian dari stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
“Dengan melihat berbagai perkembangan dan prospek tersebut, RDG BI pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga deposit facility sebesar 3,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 5,5%,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Februari 2026 yang digelar daring, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga
BEI: 894 Emiten Penuhi Ketentuan Free Float dan Jumlah Pemegang Saham per Desember 2025
Perry mengatakan, keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan saat ini, yakni upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5% plus minus 1%. “Dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Dia menegaskan bahwa BI akan terus memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh. BI juga tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut sejalan dengan perkiraan inflasi 2026 dan 2027 yang terkendali rendah.
Ia menambahkan, kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sinergi dalam perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.
Baca Juga
Prabowo Paparkan Transformasi RI di Hadapan Pengusaha AS: Digitalisasi Pendidikan hingga Danantara
Selain itu, BI akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, termasuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga diperkuat, terutama untuk mendorong pembiayaan bagi program Asta Cita Pemerintah.
“Selain itu, BI terus memperluas kerja sama internasional di area kebanksentralan, termasuk konektivitas sistem pembayaran dan transaksi menggunakan mata uang lokal, serta fasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait,” ujar dia.

