Ekonom Prediksi BI Pertahankan BI Rate di 5% pada RDG Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini. Proyeksi ini sejalan dengan pandangan sejumlah ekonom yang menilai inflasi domestik terkendali dan ketidakpastian eksternal masih tinggi.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro memperkirakan bahwa BI tidak akan mengubah suku bunga acuan bulan ini. “BI perlu menunggu transmisi kebijakan moneter hingga akhir bulan sekaligus mencermati langkah The Fed, apakah jadi memangkas bunga acuan,” ujarnya kepada investortrust.id, Rabu (17/9/2025).
Baca Juga
Jelang Pengumuman RDG BI, Rupiah Menguat ke Level Rp 16.414 per US$
Menurut riset ekonom Bank Mandiri, pasar masih menanti kepastian pemangkasan suku bunga acuan AS. The Fed diperkirakan memangkas bunga sebesar 25 basis poin (bps) sebagai respons terhadap pelemahan pasar tenaga kerja dan inflasi yang mulai mereda.
Senada, Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky juga menilai BI Rate akan tetap di 5%. Hal ini didukung inflasi domestik yang masih berada dalam kisaran target 1,5–3,5% secara tahunan, sementara inflasi inti mencerminkan lemahnya permintaan domestik. “Pergerakan harga terbaru sebagian besar bersifat musiman,” ujarnya dalam kajian tim LPEM UI.
Baca Juga
Raih Restu Pemegang Saham, Mitratel (MTEL) Mulai Buyback Rp1 Triliun
LPEM UI menambahkan, ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed mendorong investor meningkatkan alokasi portofolio ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Periode 8 Agustus hingga 8 September 2025 mencatat arus modal masuk bersih US$ 0,46 miliar, terdiri atas US$ 0,08 miliar ke obligasi pemerintah dan US$ 0,38 miliar ke pasar saham. Kondisi ini menekan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun dari 6,55% menjadi 6,44%.
Namun, sentimen pasar berubah setelah perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto, yang memicu aliran modal keluar sebesar US$ 0,25 miliar, terdiri dari US$ 0,22 miliar dari obligasi dan US$ 0,03 miliar dari saham. Rupiah yang semula menguat hingga Rp 16.300 per US$ pada awal September, melemah 0,7% harian dan tercatat turun 1,795% sepanjang tahun berjalan. “Rupiah hanya lebih baik daripada peso Argentina, lira Turki, dan rupee India,” tulis tim LPEM UI.

