Rupiah Menguat atas Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat atas dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 38 poin atau 0,23% ke posisi Rp 16.773 per US$ pada Rabu (11/2/2026) pukul 09.27 WIB.
Penguatan terhadap dolar AS juga terjadi di hampir seluruh mata uang. Yen Jepang menguat 0,38%, rupee India menguat 0,21%, dan won Korea Selatan menguat 0,13%.
Mata uang negara mitra dagang Indonesia di kawasan Asia Tenggara, juga turut menguat. Dolar Singapura menguat 0,09%.
Baht Tailan dan peso Filipina menguat masing-masing 0,29% dan 0,16% terhadap dolar AS.
Sementara itu, yuan China melemah terhadap dolar AS. Yuan melemah 0,03%. Begitupula dengan ringgit Malaysia yang melemah 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury 10 tahun turun mendekati level terendah sejak pertengahan Januari. Ini terjadi karena laporan penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan.
Data tersebut mengindikasikan perlambatan tajam belanja konsumen dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada tahun ini.
Penjualan ritel AS secara mengejutkan stagnan pada Desember 2025, jauh di bawah proyeksi kenaikan 0,4%. Sementara itu, kelompok kontrol inti (core control group) yang menjadi komponen perhitungan PDB justru turun 0,1%.
Baca Juga
DXY Turun tapi Rupiah Belum Menguat, BI Sebut Volatilitas Global Masih Tinggi
Pasar uang kini memperkirakan peluang sekitar 25% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali masing-masing 25 bps pada 2026. Proyeksi ini meningkat dari ekspektasi dua kali pemangkasan pada pekan sebelumnya.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan utama yang akan dirilis besok serta data inflasi CPI pada Jumat untuk memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai arah perekonomian AS.
Di sisi lain, investor juga mencermati perkembangan di China setelah muncul laporan bahwa otoritas mendorong perbankan untuk mengurangi eksposur terhadap US Treasury, di tengah kekhawatiran atas risiko konsentrasi dan volatilitas.
Perekonomian AS diperkirakan menambah 70.000 lapangan kerja pada bulan lalu, setelah bertambah 50.000 pada Desember 2025. Tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di level 4,4%.
Realisasi data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan selera risiko investor, terutama setelah data penjualan ritel yang dirilis Selasa lalu menunjukkan stagnasi secara tak terduga. Realisasi data itu mengindikasikan meningkatnya tekanan pada konsumen berpendapatan rendah dan menengah.

