Defisit APBN Tercatat Rp31,2 T, Namun Rupiah Ditutup 'Rebound' atas Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup rebound untuk menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Kamis (13/3/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah ditutup menguat 25 poin (0,15%) ke level Rp16.428 per dolar AS. Sedangkan sebelumnya mata uang rupiah ditutup melemah di posisi Rp16.453 per dolar AS.
Pada perdagangan pasar spot valas, berdasarkan data Yahoo Finance kurs rupiah bergerak menguat 19 poin (0,12%) ke level Rp16.420 per dolar AS. Diketahui sebelumnya Yahoo Finance mencatat mata uang rupiah ditutup melemah Rp16.439 per dolar AS.
'Rebound'-nya rupiah terhadap dolar pada penutupan perdagangan Kamis (13/3/2025) sore ini bertepatan usai dengan catatan defisitnya APBN oleh pemerintah. Sebagaimana diberitakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut realisasi pendapatan negara hingga Februari 2025 mencapai Rp316,9 triliun.
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025 hingga akhir Februari mengalami defisit Rp 31,2 triliun, berbalik dari periode sama 2024 yang masih surplus Rp 26 triliun dalam dua bulan pertama. Menkeu menyebut defisit itu sekitar 5,1% dari target defisit APBN 2025 senilai Rp 616,2 triliun.
Baca Juga
“Terjadi defisit sebesar Rp 31,2 triliun untuk posisi akhir Februari atau sebesar 0,13% dari PDB (produk domestik bruto). Defisit sebesar 0,13% dari PDB masih berada di dalam target desain APBN 2025 (hingga Desember) defisit 2,53% dari PDB,” kata Sri Mulyani, di kantornya, Jakarta, Kamis (13/03/2025).
Sementara dari sentimen eksternal pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyorot data CPI terbaca lebih dingin dari yang diharapkan untuk Februari. Namun, pembacaan yang lebih rendah terutama didorong oleh penurunan beberapa item yang mudah berubah, dengan hasil yang masih menunjukkan bahwa inflasi tetap kuat. Pembacaan CPI juga tidak mencerminkan dampak tarif Trump terhadap inflasi.
"Namun, analis memperingatkan bahwa meskipun pergerakan pasar optimis, kekhawatiran mendasar seperti ketegangan perdagangan dan ketidakpastian ekonomi global tetap ada, yang menunjukkan bahwa volatilitas pasar dapat terus berlanjut dalam waktu dekat," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (13/3/2025).
Sebelumnya, bea masuk sebesar 25% yang diberlakukan Trump untuk baja dan aluminium mulai berlaku minggu ini, sementara Donald Trump mengancam pada hari Rabu untuk meningkatkan perang dagang global dengan tarif lebih lanjut pada barang-barang Uni Eropa.
Sedangkan Eropa yang merupakan mitra dagang utama AS mengatakan mereka akan membalas hambatan perdagangan yang telah ditetapkan oleh presiden AS. Fokus berlebihan Trump pada tarif telah mengguncang kepercayaan investor, konsumen, dan bisnis serta meningkatkan kekhawatiran resesi AS.
Saat ini pasar tertuju pada data indeks harga produsen untuk bulan Februari, yang akan dirilis pada hari Kamis, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang inflasi AS. Inflasi yang lebih rendah memberi Federal Reserve lebih banyak ruang untuk memangkas suku bunga lebih lanjut, dengan bank tersebut akan bertemu minggu depan.

