Rupiah Menguat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025) sore karena pasar merespons dinamika geopolitik global dan ekspektasi kebijakan moneter AS di pengujung tahun.
Penguatan mata uang Garuda tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), yang mencatat rupiah berada di posisi Rp 16.782 per dolar AS atau menguat 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih berfluktuasi.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai perhatian pelaku pasar global tertuju pada perkembangan negosiasi Rusia dan Ukraina. "Presiden Rusia Vladimir Putin tengah merevisi sikap negosiasinya menyusul dugaan serangan pesawat tak berawak ke kediamannya, yang memunculkan ketidakpastian baru terhadap upaya perdamaian Rusia-Ukraina yang dipimpin AS," kata dia.
Baca Juga
Rupiah Menguat pada Selasa Pagi, Membalikkan Tren Pelemahan?
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar global. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Washington akan menyerang Iran jika negara tersebut mencoba membangun kembali program nuklirnya dinilai meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai, termasuk emas batangan.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada rilis risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve (the Fed), bank sentral Amerika Serikat. Pelaku pasar mencermati dokumen tersebut untuk mencari petunjuk mengenai pandangan pembuat kebijakan terhadap tren inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta arah suku bunga acuan ke depan.
Rilis risalah rapat tersebut diperkirakan memengaruhi arah pasar jangka pendek pada pekan terakhir 2025. Namun, likuiditas pasar relatif terbatas karena pasar keuangan Amerika Serikat ditutup pada akhir pekan, sehingga partisipasi investor global menjadi lebih selektif.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai perekonomian Indonesia menghadapi tantangan pada 2025. Tekanan tersebut berasal dari meningkatnya tensi geopolitik global serta dampak kebijakan tarif AS, yang dinilai menekan kepercayaan pelaku pasar dan memicu kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga
Usai Libur Natal, Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS ke Posisi Rp 16.769
Ia menjelaskan perlambatan ekonomi terjadi di tengah penyesuaian aktivitas konsumsi, moderasi kinerja ekspor, serta ketidakpastian global yang masih tinggi. Sejumlah lembaga internasional bahkan memperkirakan adanya risiko perlambatan yang lebih dalam apabila terjadi gangguan lanjutan pada rantai perdagangan global.
Meski demikian, fundamental ekonomi domestik dinilai masih menjadi penopang utama. Konsumsi rumah tangga dan investasi di dalam negeri tetap menunjukkan ketahanan. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 yang mencapai 5,04%, menegaskan keberlanjutan pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

