BI: Transmisi Penurunan Suku Bunga Bank Melambat Sejak BI Rate Dipangkas September 2024
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mulai mengamati alotnya penurunan suku bunga perbankan mulai terjadi sejak pemangkasan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) pada September 2024. Kala itu, BI Rate dipangkas dari 6,25% menjadi 6%.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro menjelaskan BI mengevaluasi transmisi pemangkasan suku bunga tersebut setiap kuartal. Proyeksinya, transmisi penurunan suku bunga acuan yang akan diikuti oleh suku bunga kredit perbankan akan membutuhkan waktu selama enam bulan.
“Ternyata ada anomali-anomali. Kita cari faktor-faktornya,” kata Solikin, saat taklimat media, di kantor pusat BI, Jakarta, Senin (22/12/2025).
Solikin mengatakan untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga perbankan ke depan, BI mengoptimalisasi intermediasi yang mulai berlaku pada 1 Desember 2025. BI telah mengeluarkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mempercepat penurunan dan penyaluran pembiayaan perbankan.
BI memberikan insentif KLM sebesar 5% untuk penyaluran kredit ke empat sektor, masing-masing adalah pertanian, industri, dan hilirisasi sebesar 1,5% KLM, jasa termasuk ekonomi kreatif sebesar 0,6% KLM, perumahan sebesar 1,4% KLM, dan UMKM, koperasi, inklusi dan berkelanjutan sebesar 1,5% KLM.
Selain itu BI juga memberikan insentif KLM bagi perbankan yang menurunkan suku bunganya lebih cepat, dengan diganjar insentif maksimal 0,5%. Perbankan yang mampu menurunkan suku bunga sebesar 0,3% hingga 0,6% mendapatkan insentif 0,4% KLM, dan yang menurunkan lebih dari 0,6% mendapatkan insentif 0,5%.
Tetapi, pada 16 Desember 2025, skema ini diubah. Perubahan dilakukan setelah adanya evaluasi yang selaras dengan Asta Cita pemerintah.
Baca Juga
Perbankan Diminta Turunkan Suku Bunga Kredit oleh BI, Begini Tanggapan Bank Mandiri
BI memberikan insentif KLM sebesar 4,5% untuk penyaluran kredit ke empat sektor, yaitu pertanian, industri, dan hilirisasi sebesar 1,5% KLM, jasa termasuk ekonomi kreatif sebesar 0,6% KLM, perumahan sebesar 1,4% KLM, dan UMKM, koperasi, inklusi dan berkelanjutan sebesar 1% KLM.
Sementara itu, perbankan yang menurunkan suku bunganya lebih cepat akan diganjar insentif KLM sebesar maksimal 1%. Perbankan yang mampu menurunkan suku bunga sebesar 0,3% hingga 0,6% mendapatkan insentif 0,9% KLM, dan yang menurunkan lebih dari 0,6% mendapatkan insentif 1%.
Solikin menjelaskan perubahan ini tidaklah mutlak. BI akan mengevaluasi insentif baru untuk mendorong transmisi penurunan suku bunga acuan lebih lanjut.
“Nanti itu akan tetap kita kalibrasi. Tetap 1% atau nambah 1,5% atau (total KLM) nambah 6%. Sesuai kebutuhan,” kata dia.
Direktur Kebijakan Makroprudensial BI, Irman Robinson menjelaskan lambannya penurunan suku bunga deposito karena adanya special rate yang diberikan terhadap deposan. Total, special rate yang diberikan ke deposan mencapai Rp 2.549 triliun atau 26,3% dari Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Kalau misalnya suku bunga special rate ini masih terus tinggi, akan membuat transmisi kebijakan BI Rate, akan berjalan lambat,” kata Irman saat taklimat media di Bukittinggi, Jumat (24/10/2025).
Irman menjelaskan suku bunga deposito dalam jangka waktu satu bulan baru mengalami penurunan sebesar 29 bps dari 4,81% pada awal 2025 ke 4,52% pada September 2025. Sementara itu, suku bunga kredit turun lebih lambat hanya sekitar 15 bps dari 9,2% pada awal 2025 menjadi 9,05% pada September 2025.
Sebagai antisipasi, Irman menjelaskan bahwa BI terus fokus memperkuat kebijakan makroprudensial. Salah satunya dengan tidak hanya fokus terhadap mendorong penyalurannya saja.

