Nilai Tukar Rupiah Tertekan Jelang Data AS dan RDG BI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (16/12/2025). Mata uang Garuda turun 18 poin atau melemah 0,11% ke posisi Rp 16.685 per dolar AS mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menahan transaksi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) justru melemah 0,06% ke posisi 98,24. Pelemahan dolar AS tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah mata uang global untuk menguat, meski rupiah bergerak berlawanan arah.
Di kawasan Asia, yen Jepang menguat 0,25% dan ringgit Malaysia naik 0,21%. Di Eropa, euro Uni Eropa menguat tipis 0,01%, sementara yuan China terapresiasi 0,08%.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Awal Pekan Ketiga Desember, Investor Berhati-hati
Namun, tekanan masih membayangi beberapa mata uang lainnya. Rupee India tercatat melemah 0,34%. Poundsterling Britania Raya terkoreksi 0,05%, dolar Singapura melemah 0,03%, dan baht Thailand turun 0,04%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pelemahan rupiah sejalan dengan sikap investor yang mengambil posisi wait and see menjelang rilis data ekonomi utama. "Dampaknya juga terlihat di pasar saham AS yang ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones turun 0,09% ke level 48.416,56 dan S&P 500 melemah 0,16% ke posisi 6.816,51," kata dia.
Andry menjelaskan tingkat pengangguran AS diproyeksikan naik menjadi 4,5% pada November 2025, meningkat 0,1% poin dibandingkan September 2025. Sementara itu, penjualan ritel AS diperkirakan hanya tumbuh 0,1% secara bulanan pada Oktober 2025, melambat 0,2% dari bulan sebelumnya.
“Ini menandakan lemahnya daya beli konsumen di tengah tingginya biaya hidup dan suku bunga yang masih tinggi. Meski konsumsi ritel melunak, inflasi AS diperkirakan tetap tinggi akibat inflasi sektor jasa yang persisten dan biaya struktural berbasis upah,” kata Andry.
Baca Juga
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia yang digelar Rabu (17/12/2025). Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar, di tengah aliran modal masuk yang diproyeksikan tetap mengalir ke pasar domestik.

