The Fed Bikin 'Deg-degan', Rupiah Ikut Goyang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat ke posisi Rp 16.688 per dolar AS pada Rabu (10/12/2205) seiring pergerakan pasar yang masih menantikan arah kebijakan bank sentral AS, The Fed.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, nilai tukar rupiah melemah 11 poin atau 0,06% pada perdagangan terbaru.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah berlangsung ketika ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve semakin meluas. Namun, ia menilai perhatian utama pasar tetap tertuju pada pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, terutama terkait panduan suku bunga untuk 2026.
“Para pelaku pasar mencari petunjuk bagaimana The Fed berencana menyeimbangkan dukungan ekoomi dengan pengendalian inflasi,” kata Ibrahim, Rabu (10/12/2025).
Situasi geopolitik sedikit mereda setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan rencana menyerahkan dokumen “damai” yang telah disempurnakan kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Menurutnya, peluang kesepakatan perdamaian dapat membuka jalan pencabutan sanksi internasional terhadap perusahaan Rusia, sehingga pasokan minyak global berpotensi meningkat kembali.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menyoroti sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global. Salah satu perhatian bank sentral, yaitu meningkatnya perilaku agresif lembaga keuangan non-bank dalam memanfaatkan surat utang pemerintah negara maju sebagai aset dasar untuk menciptakan produk derivatif berisiko tinggi.
BI menjelaskan praktik tersebut menimbulkan kerentanan pasar keuangan karena dilakukan tanpa pengaturan memadai. “Masalahnya, praktik berisiko tinggi ini dilakukan tanpa pengaturan margin dan permodalan yang memadai,” kata BI dalam penjelasannya.

