Perang Dagang dan Ketidakpastian Tarif Goyang Wall Street, Dow Jones Anjlok 1.000 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS anjlok pada penutupan Kamis waktu AS atau Jumat (11/4/2025) WIB. Hal ini mengembalikan sebagian dari keuntungan reli bersejarah yang terjadi pada sesi sebelumnya setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penangguhan tarif “timbal balik” selama 90 hari.
Baca Juga
Wall Street Meroket Setelah Trump Tunda Tarif Baru, Dow Jones Terbang Lebih dari 2.900 Poin
Para investor khawatir bahwa meskipun ada jeda singkat pada sebagian bea masuk, aktivitas ekonomi tetap akan melambat karena Trump secara khusus menetapkan tarif jauh lebih tinggi untuk Tiongkok.
Indeks S&P 500 turun 3,46% dan ditutup di 5.268,05, sementara Nasdaq Composite turun 4,31% menjadi 16.387,31. Dow Jones Industrial Average anjlok 1.014,79 poin, atau 2,5%, dan berakhir di 39.593,66.
Saham-saham yang turun secara signifikan termasuk Apple dan Tesla, yang masing-masing melemah 4,2% dan 7,3%. Nvidia turun hampir 6%, sementara Meta Platforms turun hampir 7%.
Kerugian semakin dalam setelah Gedung Putih mengonfirmasi kepada CNBC pada Kamis bahwa tarif kumulatif atas Tiongkok sebenarnya mencapai total 145%. Ini terdiri dari tarif baru sebesar 125% untuk barang-barang, ditambah tarif 20% yang dikenakan sebelumnya sebagai tanggapan atas krisis fentanyl.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Meskipun demikian, Trump mengatakan pada sore harinya bahwa dia tidak menutup kemungkinan untuk memperpanjang jeda tarif tersebut.
“Kita akan lihat apa yang terjadi saat waktunya tiba,” kata Trump dalam sebuah rapat Kabinet.
Tarif yang berlaku saat ini meliputi, bea masuk 145% untuk semua barang dari Tiongkok, tarif 25% untuk aluminium, otomotif, dan barang-barang dari Kanada dan Meksiko yang tidak termasuk dalam Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada, dan bea 10% untuk seluruh impor lainnya.
Pergerakan pasar hari Kamis menghapus sebagian dari lonjakan hari Rabu yang bersejarah, di mana S&P 500 melonjak lebih dari 9%, kenaikan harian terbesar ketiga sejak Perang Dunia II. Dow juga mencatatkan kenaikan persentase terbesar sejak Maret 2020, sementara Nasdaq mencatatkan lonjakan satu hari terbesar sejak Januari 2001 dan hari terbaik kedua dalam sejarahnya.
“Investor sudah kembali sadar. Ketidakpastian adalah isu besar karena tarif 145% itu bisa berubah jadi angka lain besok. Sangat sulit untuk memprediksi titik terendah atau tertinggi karena narasi dan persepsi investor telah berubah sangat drastis,” urai Melissa Brown, direktur pelaksana riset terapan di SimCorp, seperti dikutip CNBC.
Reli dimulai setelah Trump mengumumkan penurunan sementara tarif impor untuk sebagian besar negara menjadi 10% selama 90 hari. Kanada dan Meksiko tidak akan dikenai tambahan bea 10%. Uni Eropa pada Kamis juga mengumumkan penangguhan tarif selama 90 hari terhadap barang-barang dari AS.
Meskipun ada optimisme awal terhadap jeda 90 hari tersebut, banyak pihak di Wall Street percaya pasar masih jauh dari kondisi aman. Bahkan dengan penundaan beberapa tarif, kenaikan tarif atas barang-barang Tiongkok membuat beban tarif efektif berada di tingkat tertinggi sepanjang sejarah, menurut Morgan Stanley.
“Penundaan memang membantu, tetapi tidak mengurangi ketidakpastian,” tulis Michael Gapen, kepala ekonom AS di Morgan Stanley, dalam sebuah catatan pada hari Kamis.

