Dolar AS Menguat, Rupiah Terperosok di Awal Sesi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (8/10/2025) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 46 poin atau 0,28% ke posisi Rp 16.607 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,28% ke level 98,85, menandai posisi tertinggi dalam 4 pekan terakhir.
Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang Asia. Terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,40%; terhadap ringgit Malaysia naik 0,16%; dan terhadap won Korea Selatan menguat 0,42%. Sementara baht Thailand dan peso Filipina justru sedikit menguat masing-masing 0,01%.
Baca Juga
Secara global, dolar AS juga menguat terhadap euro sebesar 0,29% dan terhadap poundsterling Inggris sebesar 0,20%, memperlihatkan tren penguatan yang meluas.
Menurut riset PT Bank Mandiri Tbk, peningkatan DXY menjadi pemicu utama melemahnya sejumlah mata uang di kawasan. “Kenaikan indeks dolar ini merupakan yang tertinggi dalam empat minggu terakhir,” tulis Bank Mandiri dalam laporannya.
Pengaruh eksternal
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, penguatan dolar AS disebabkan oleh pelemahan yen Jepang dan euro, di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini diperburuk dengan tertundanya rilis sejumlah data ekonomi penting di Amerika Serikat akibat government shutdown.
Selain itu, pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan peluang sebesar 92% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada akhir Oktober 2025, dengan potensi penurunan lanjutan pada Desember. “Pandangan kami, nilai tukar USD/IDR hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.515 hingga Rp 16.575 per dolar AS,” ujar Andry.
Baca Juga
BI: Rupiah Melemah Tipis, Yield SBN Turun, Asing Jual Neto di Pekan Pertama Oktober 2025
Meskipun rupiah melemah, pasar modal domestik menunjukkan ketahanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,36% pada perdagangan Selasa (7/10/2025) ke level 8.169,28.
Namun demikian, arus modal asing tercatat keluar sebesar Rp 89,4 miliar, menandakan masih adanya tekanan dari investor global. Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 4,8 basis poin ke level 6,25%, sedangkan yield obligasi 10 tahun dolar AS naik 0,2 basis poin ke 5%.

