Rupiah Menguat di Awal Pekan, Terbantu Ketidakpastian Tarif yang Menyeret Depresiasi Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka menguat terhadap dolar AS pada awal pekan, Senin (23/2/2026). Rupiah menguat 0,30% di posisi Rp 16.838 per US$.
Tak hanya rupiah yang menunjukkan penguatan. Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia juga menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini terjadi karena indeks dolar AS atau DXY melemah ke posisi 97,4.
Di kawasan Asia Tenggara, mata uang Tailan, baht menguat 0,27%. Dolar Singapura juga menguat 0,23%. Sementara itu peso Filipina menguat 0,43% dan yen Jepang menguat 0,52%. Ringgit Malaysia juga menguat 0,32%. Sementara itu, rupee India juga melemah 0,34%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menilai penurunan indeks DXY di bawah 97,5, karena Presiden AS Donald Trump mengatakan ia berencana menaikkan tarif global dari 10% menjadi 15%.
Keputusan Trump ini dilakukan menyusul keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan tarif resiprokalnya. Kepala perdagangan Eropa pada Minggu mengatakan ia akan mengusulkan penangguhan ratifikasi perjanjian dagang dengan AS, sementara India menunda negosiasi untuk merampungkan kesepakatan sementara dengan Washington DC.
Utusan USTR, Jamieson Greer mengatakan pengaturan perdagangan dengan mitra utama, termasuk China, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, akan tetap berlaku. Pasar awalnya menyambut baik putusan pengadilan pada Jumat, namun meningkatnya ketidakpastian atas langkah Trump selanjutnya menutupi potensi manfaat dari tarif yang lebih rendah dan kemungkinan penggantian biaya.
Dolar AS biasanya melemah saat ketidakpastian kebijakan di Washington meningkat, karena investor asing mengurangi eksposur terhadap aset AS.
Baca Juga
Data ekonomi AS yang akan dirilis meliputi harga produsen, harga perumahan, indikator kepercayaan konsumen, serta indikator utama dari bank-bank Federal Reserve regional. Data harga konsumen juga akan menjadi sorotan di Jerman, Prancis, Australia, dan Singapura.
Bank Rakyat China akan menetapkan suku bunga acuan utama ketika ekonomi terbesar kedua di dunia kembali dari libur Tahun Baru Imlek. Bank of Korea juga akan mengumumkan keputusan kebijakan suku bunga di pekan ini.

