Rupiah Perkasa, Menguat 34 Poin ke Rp 16.601 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (2/10/2025). Pada sesi pagi, Mata Uang Garuda menguat 34 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga rupiah bertengger di posisi Rp 16.601 per US$, demikian berdasarkan pantauan di data Bloomberg pukul 09.41 WIB.
Dolar AS menunjukkan pelemahan hampir ke semua mata uang di kawasan. Dolar AS melemah -0,08% terhadap won Korea Selatan dan terdepresiasi sebesar -0,03% terhadap ringgit Malaysia. Begitu pula dengan yuan China, dolar AS juga melemah -0,01%.
Dolar AS juga melemah terhadap dolar Singapura dan peso Filipina, yang masing-masing -0,02% dan 0,01%. Sementara itu, terhadap yen Jepang, dolar AS masih menguat 0,03%.
Dolar AS juga terdepresiasi jika dibandingkan dengan dua mata uang di kawasan Benua Biru, Eropa. Dolar AS melemah sebesar -0,01% poundsterling Inggris dan -0,06% euro Uni Eropa.
Baca Juga
Pelemahan dolar terhadap hampir semua mata uang tersebut didorong pelemahan indeks dolar AS (DXY). Berdasarkan pantauan DXY melemah -0,03% ke 97,67.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyoroti pemicu pelemahan DXY ini karena lemahnya data ketenagakerjaan AS dan government shutdown yang terjadi di pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Peristiwa government shutdown ini memunculkan ekspektasi dari pasar terhadap pemangkasan suku bunga the Fed.
“ADP melaporkan penurunan 32.000 pada private payrolls pada September 2025. Tren perlambatan pertumbuhan lapangan kerja berlanjut di sebagian besar sektor,” jelas Andry.
Kondisi yang terjadi terhadap Paman Sam menambah ketidakpastian pasar. Dengan inflasi yang masih di atas target dan pasar tenaga kerja yang melemah, pasar uang kini memperkirakan peluang 90% pemangkasan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini dan memprediksi terjadinya tambahan peluang pemangkasan hingga akhir tahun.
Dari dalam negeri, beberapa indikator data menunjukkan perekonomian masih berjalan baik. Inflasi tahunan Indonesia naik menjadi 2,65% pada September 2025, yang menjadi level tertinggi sejak Mei 2024.
Sementara itu, neraca perdagangan masih meneruskan tren surplus. “Surplus perdagangan Indonesia melebar menjadi US$ 5,49 miliar pada Agustus 2025, naik dari US$ 2,78 miliar pada periode yang sama tahun lalu,” ucap dia.
Pelaku industri juga masih menunjukkan tren optimistis. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia turun, namun masih berada di jangkar ekspansif. Agustus 2025, indeks ini tercatat sebesar 51,5 tertinggi dalam lima bulan terakhir, namun pada September turun ke 50,4.
Melihat tren ini, rupiah diprediksi akan menguat. Perdagangan rupiah terhadap dolar AS diprediksi berada dalam rentang Rp 16.583 hingga Rp 16.698 per US$.

