Akhirnya, Rupiah Menguat Tipis di Rp 16.680 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat tipis di sesi Rabu (1/10/2025). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah menguat 12 poin atau terapresiasi 0,07% dibandingkan sehari lalu.
Berdasarkan data Bloomberg, penguatan rupiah terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS atau DXY. Pada Rabu ini, DXY melemah 0,17 poin ke 97,60.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi rupiah yang menguat sore ini terjadi karena dipengaruhi government shutdown Amerika Serikat (AS). Kondisi ini terjadi karena kongres AS gagal meloloskan rancangan undang-undang untuk mencegah penutupan pemerintah pada Selasa tengah malam (30/9/2025).
Penutupan pemerintahan AS diperkirakan akan menunda rilis data pasar tenaga kerja yang dinanti pasar. Selain itu, keraguan atas penurunan suku bunga lebih lanjut juga merayap ke pasar pekan ini menyusul komentar hawkish para pejabat the Fed.
Baca Juga
Sementara itu, dari dalam negeri inflasi sebesar 0,21% secara bulanan dan 2,65% secara tahunan pada September menunjukkan terjadinya kenaikan indeks harga konsumen. Di sisi lainnya, indeks manufaktur (PMI) Indonesia versi S&P Global tercatat masih ekspansif meski turun ke level 50,4 dari bulan sebelumnya, Agustus 2025, sebesar 51,5.
Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka dengan melemah. Menurut analis pasar uang Bank Woori Saudara, Rully Nova sempat memperkirakan rupiah akan berada di rentang perdagangan Rp 16.660 hingga Rp 16.720 per US$.
“Dipengaruhi oleh faktor global, penguatan indeks dolar sehubungan dengan shutdown pemerintah federal AS,” kata Rully, kepada investortrust.id.
Pada perdagangan pagi tadi, DXY sempat berada di level 97,81. Dengan adanya ambruknya pemerintah federal AS, risiko ketidakpastian global bertambah.
“Pelaku pasar akan memarkir di safe haven, dollar AS, sehingga index dollar akan terus berlanjut naik mendekati kembali ke 100,” ujar dia.

