Rupiah Loyo Jelang Pengumuman Neraca Perdagangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali mengalami pelemahan pada hari pertama Oktober 2025. Di hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan inflasi September 2025 dan neraca perdagangan Agustus 2025.
Rupiah terdepresiasi -14 poin atau -0,08% menjadi Rp 16.678 per dolar Amerika Serikat (AS).
Selain Mata Uang Garuda, pelemahan juga terjadi pada mata uang Jepang dan Korea Selatan. Yen Jepang melemah -0,07%, sementara won Korea Selatan -0,26%.
Tak hanya dua mata uang tersebut, ringgit Malaysia juga mengalami tekanan. Ringgit terkoreksi ke bawah -0,07%. Begitu pula dengan dolar Singapura dan baht Thailand yang masing-masing -0,10% dan -0,11%.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan Mata Uang Garuda masih bergerak fluktuatif. “Ditutup melemah di rentang Rp 16.660 hingga Rp 16.710 per US$” ujar Ibrahim.
Ibrahim mengatakan salah satu yang mendorong pelemahan rupiah yaitu karena pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Asian Development Bank (ADB). Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun 0,1 persen poin.
Proyeksi ADB pada April 2025 sebesar 5% berubah menjadi 4,9% pada September 2025. ADB menjelaskan, revisi proyeksi ini dipengaruhi perkembangan ketidakpastian perdagangan global akibat tingginya tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS).
“Ini mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Pasifik termasuk Indonesia,” dia.
Dari sisi eksternal, pasar menilai bahwa anggota parlemen AS tidak akan mencegah penutupan pemerintah atau government shutdown. Kongres memiliki waktu hingga tengah malah untuk mengesahkan RUU Anggaran.
“Dan menghindari penutupan ratusan lembaga federal. RUU Anggaran yang didukung Partai Republik baru-baru ini berhasil lolos di parlemen, namun menghadapi perlawanan di senat,” jelas dia.
Penutupan pemerintah cenderung mengganggu aktivitas ekonomi di AS. Ini dapat menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekonomi.

