Rupiah Menguat Tipis di Akhir Perdagangan Selasa, Berada di Posisi Rp 16.622 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah menguat tipis 4 poin ke posisi Rp 16.622 per US$ pada Selasa (28/10/2025) dibandingkan penutupan pada Senin (27/10/2025) yang sebesar Rp 16.628 per US$.
Penguatan rupiah pada Selasa ini dipengaruhi indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah 0,13% di posisi 98,65. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan rupiah dipengaruhi faktor prospek kesepakatan perdagangan antara AS dan China.
Beijing berharap Washington dapat mencapai kesepakatan di tengah “persiapan interaksi tingkat tinggi” antara kedua negara.
Sementara itu, sanksi Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan sanksi terhadap penjualan minyak Rusia, dirasakan perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft. Akibat sanksi tersebut, produsen minyak terbesar kedua Rusia, Lukoil, membuat mereka menjual aset internasionalnya.
Baca Juga
Rupiah Dibuka Melemah pada Selasa Pagi ke Posisi Rp 16.622 per US$
Pasar yakin the Fed akan memangkas suku bunga setidaknya 25 basis poin (bps) pada pertemuan Rabu mendatang. Spekulasi penurunan suku bunga diperkuat oleh data inflasi yang lemah dari pekan lalu.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti peran pemerintah dalam mengelola rasio utang yang mencapai sekitar Rp 9.000 triliun. Strategi tersebut berfokus pada efisiensi belanja anggaran dan peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk menekan defisit dan menaikkan rasio penerimaan pajak terhadap PDB.
Pengeluaran pemerintah yang optimal diperlukan agar berdampak maksimal terhadap perekonomian. Strategi pertama yang dijalankan yaitu anggaran dibelanjakan tepat waktu, sasaran, dan tidak ada kebocoran.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.600 hingga Rp 16.630 per US$” kata Ibrahim.

