Rupiah Melemah ke Rp 16.618 per US$ pada Senin Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan -17 poin atau -0,1% ke Rp 16.618 per US$ di pasar spot pada Senin (22/9/2025), berdasarkan Bloomberg pada pukul 09.46 WIB. Rupiah melanjutkan pelemahan setelah pada Jumat (20/9/2025) melemah di Rp 16.601 per US$.
Berdasarkan pantauan di papan data Bloomberg, Mata Uang Garuda bukan satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang terdepresiasi. Pelemahan rupiah juga terjadi pada yen Jepang yang melemah -0,26%, ringgit Malaysia melemah -0,08%, dan dolar Singapura yang melemah -0,05%.
Sementara itu, yuan China menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,07%, peso Filipina menguat tipis 0,01%, dan baht Thailand menguat 0,05%. Apresiasi tertinggi terjadi pada won Korea Selatan yang menguat 0,32%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksikan rupiah bergerak di atas Rp 16.500 per US$ pada perdagangan hari ini.
“Pandangan kami, USD/IDR akan bergerak di kisaran Rp 16.520 hingga Rp 16.615 per US$” kata Andry, dalam keterangan resminya Senin (22/9/2025).
Baca Juga
Berdasarkan datanya, sentimen pemangkasan BI Rate menjadi pertimbangan pasar. Setelah BI Rate turun ke 4,75% pada September ini, rupiah melemah ditutup melemah pada akhir pekan lalu di posisi Rp 16.588 per US$ atau melemah 3,02% secara tahun berjalan.
Dari eksternal, Indeks PMI Manufaktur akan menjadi fokus perhatian di India, Australia, Jepang, Inggris, Perancis, Jerman, dan secara agregat di zona Euro. Data laba industri akan menjadi perhatian di China.
Melihat kondisi tersebut, pasar saham Eropa ditutup melemah pada Jumat (19/9/2025). CAC Perancis turun -0,01% ke 7.853,59 dan DAX Jerman turun -0,15% ke 23.639,41.
Diberitakan sebelumnya, pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakpastian global masih sangat tinggi. Imbas perang tarif AS berdampak buruk bagi perekonomian dunia.
Kebijakan fiskal progresif Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menempatkan dana Rp 200 triliun pemerintah ke lima perbankan pelat merah disikapi hati-hati dari sisi perbankan, industri, dan konsumen.
“Lantaran masih rendahnya daya beli, cukup berisiko bagi pengusaha untuk mendorong ekspansi usahanya,” kata Ibrahim.
Sementara itu, sentimen yang mempengaruhi rupiah dari luar negeri yaitu pernyataan Ketua Dewan Gubernur the Fed Jerome Powell yang menekankan “tidak ada dukungan luas” untuk memangkas suku bunga, Fed Fund Rate (FFR), sebesar 50 basis poin (bps) dan bank sentral AS tidak perlu bergerak cepat untuk menurunkan suku bunga.
Di samping itu, fokus pasar juga tetap tertuju terhadap sanksi AS mengenai pembeli minyak mentah Rusia.
Melihat kondisi ini, Ibrahim menyatakan rupiah bergerak di level Rp 16.602 per US$.
“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.000-Rp 16.660 per US$” kata Ibrahim.

