Rupiah Melemah ke Rp 16.688 per US$ pada Penutupan Perdagangan Senin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS di akhir perdagangan Senin (8/12/2025). Rupiah terkoreksi dalam 33 poin atau turun 0,19% dibandingkan akhir perdagangan Jumat (5/12/2025) ke level Rp 16.688 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan rupiah didorong ekspektasi pasar yang kuat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunganya di akhir pekan ini. Prediksi ini terjadi karena tanda-tanda perlambatan ekonomi AS.
“Kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi sekitar 85%, meningkatkan harapan bahwa biaya pinjaman yang lebih rendah dapat mendukung pertumbuhan global dan ekuitas,” kata Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan optimisme tersebut diredam oleh kehati-hatian karena beberapa pejabat the Fed mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember masih jauh dari pasti. Bahkan, Ketua the Fed, Jerome Powell menekankan bahwa keputusan yang akan datang bukan suatu kepastian, membuat investor waspada terhadap potensi kejutan hawkish.
Baca Juga
Rupiah Terkapar di Rp 16.646 per US$ Imbas Menguatnya Ekspektasi Pemangkasan The Fed
Pasar juga melihat kemajuan dalam perundingan damai Ukraina dan Rusia. Para pejabat AS dan Rusia memiliki pandangan yang berbeda terhadap proposal perjanjian damai yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
Di dalam negeri, Ibrahim melihat pasar berekspektasi terhadap ruang bagi pemulihan ekonomi pada 2026. Kombinasi inflasi dalam jangkauan dan PMI Manufaktur di level ekspansif menjadi sinyal awal bahwa perekonomian Indonesia tetap tangguh.
Selain itu, Ibrahim melihat reaksi pasar terhadap draf revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang memberi mandat ke Bank Indonesia (BI) untuk meracik bauran kebijakan gar menciptakan iklim ekonomi kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
“Dengan kondisi tersebut, diproyeksikan, pertumbuhan ekonomi 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025. Proyeksi ini ditopang konsumsi rumah tangga, pemulihan investasi, serta kebijakan fiskal yang lebih ekspansif,” ucap dia.

