Jelang Akhir Pekan, Rupiah Terdampar di Rp 16.578 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (19/9/2025). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah terdepresiasi -80 poin atau turun -0,48% dibandingkan posisi Kamis (18/9/2025).
Posisi rupiah berada di Rp 16.578 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan rupiah melemah 0,5% ke Rp 16.588 per US$. “Rupiah diperdagangankan di kisaran Rp 16.545 hingga Rp 16.588 per US$” kata Andry, dalam keterangan resminya, Jumat (19/9/2025).
Pelemahan rupiah ini berbeda dengan kondisi pasar saham. IHSG naik 0,5% ke 8.051 mengungguli pelemahan bursa Asia.
Indeks saham Asia melemah ditandai dengan indeks saham Shanghai turun 0,3% ke 3.820 dan Nikkei turun 0,6% ke 45.046. Ini seiring dengan posisi investor yang melakukan penyesuaian portofolio pascapemangkasan FFR.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Rp 16.568 per Dolar AS, Dipicu Sentimen Global dan Domestik
Sepanjang pekan ini, IHSG tercatat naik 3,9%, imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun turun 8 basis poin (bps), imbal hasil obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun turun 0,3 bps.
“Rupiah melemah 0,77% terhadap US$. Sementara investor asing di pasar saham mencatatkan beli bersih Rp 3 triliun,” kata dia.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakpastian global masih sangat tinggi. Imbas perang tarif AS berdampak buruk bagi perekonomian dunia.
Kebijakan fiskal progresif Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menempatkan dana Rp 200 triliun pemerintah ke lima perbankan pelat merah disikapi hati-hati dari sisi perbankan, industri, dan konsumen.
“Lantaran masih rendahnya daya beli, cukup berisiko bagi pengusaha untuk mendorong ekspansi usahanya,” kata Ibrahim.
Sementara itu, sentimen yang mempengaruhi rupiah dari luar negeri yaitu pernyataan Ketua Dewan Gubernur the Fed Jerome Powell yang menekankan “tidak ada dukungan luas” untuk memangkas suku bunga, Fed Fund Rate (FFR), sebesar 50 basis poin (bps) dan bank sentral AS tidak perlu bergerak cepat untuk menurunkan suku bunga.
Di samping itu, fokus pasar juga tetap tertuju terhadap sanksi AS mengenai pembeli minyak mentah Rusia.
Melihat kondisi ini, Ibrahim menyatakan rupiah bergerak di level Rp 16.602 per US$.
“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.000-Rp 16.660 per US$” kata Ibrahim.

