Rupiah Menguat pada Perdagangan Senin, Ada di Posisi Rp 17.170 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (20/4/2026). Rupiah menguat 0,11% dan berada di posisi Rp 17.170 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kondisi rupiah ke depan sangat dipengaruhi kondisi minyak mentah dunia. Dia memproyeksikan selama sepekan mendatang harga minyak mentah dunia versi WTI akan berada di kisaran US$ 73,8 per barel hingga US$ 98 per barel.
Dengan rentang tersebut, indeks dolar AS atau DXY diproyeksikan akan berada di kisaran 97,15 hingga 100.
Menurut Ibrahim, selama sepekan mendatang terdapat empat indikator yang menentukan kondisi mata uang Garuda, di antaranya geopolitik, masalah politik dalam negeri AS, kebijakan bank sentral, dan perang dagang. Persoalan geopolitik yang dia maksud tidak hanya menyangkut kondisi Selat Hormuz, namun juga serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia.
“Ini sangat krusial sekali, yang kemungkinan membuat ketegangan di Eropa Timur semakin tinggi,” kata Ibrahim.
Baca Juga
Di Timur Tengah, kata Ibrahim, gencatan senjata yang dilakukan Israel dan Lebanon akan berdampak positif bagi hubungan AS dan Iran.
Sementara itu, pada pekan ini bank sentral Indonesia dan pertemuan the Fed pada akhir April 2026 akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga mendatang. Posisi Ketua the Fed AS, Jerome Powell kemungkinan besar akan berakhir dan digantikan Kevin Walsh pada Mei.
Suksesi kepemimpinan the Fed ini diproyeksikan akan berpengaruh terhadap posisi DXY.
“Sehingga dolar AS akan melemah. Pelemahan dolar AS akan berdampak pada penguatan indeks dolar AS dan rupiah ini bukan lagi menguat tetapi melemah karena cadangan fiskal kita yang sedikit oleng,” kata dia.

