Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.301 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (18/7/2025) jelang akhir pekan. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat 28 poin (0,17%) ke level Rp 16.301 per dolar AS.
Pada perdagangan spot, dilansir Bloomberg kurs rupiah bergerak menguat hingga 44 poin (0,27%) ke level Rp 16.296 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pasar Mencermati ketidakpastian tarif dan kebijakan Federal Reserve (The Fed) setelah data minggu ini menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) AS sedikit di atas ekspektasi, menyoroti dampak awal tarif perdagangan Presiden Donald Trump.
Baca Juga
Dolar AS Perkasa Bikin Rupiah Ditutup makin Merosot Hari Ini
Data IHK telah memperkuat sikap hati-hati Fed terhadap suku bunga. Beberapa pejabat Fed mencatat minggu ini bahwa inflasi masih stagnan dan kenaikan baru-baru ini mungkin mencerminkan penerapan tarif lebih awal ke harga konsumen.
"Oleh karena itu, investor semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (18/7/2025).
Baca Juga
Rupiah Pagi Ini Melemah, Drama Trump dan The Fed Jadi Biang Kerok
Sementara itu, kekhawatiran atas independensi bank sentral diperburuk di tengah meningkatnya ketegangan antara Presiden Trump dan Ketua Fed Jerome Powell. Trump pada hari Rabu menolak klaim bahwa ia berencana untuk mencopot Ketua Fed Jerome Powell tetapi tidak menutup kemungkinan.
Presiden AS telah meningkatkan serangan tarifnya minggu ini, dan dengan kurang dari dua minggu tersisa hingga batas waktu 1 Agustus, para investor tetap waspada.
"Kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang tidak menentu, tampaknya tidak akan terselesaikan hingga setelah 1 Agustus menggerogoti kepercayaan terhadap aset-aset AS, yang menyebabkan mata uang, obligasi Treasury, dan Wall Street melemah, serta kekhawatiran fiskal akibat rancangan undang-undang pengeluaran besar-besaran dan pemotongan pajak Trump," jelas Ibrahim.

