BI: Ekonomi Global Masih Melambat Akibat Tarif Resiprokal AS-China
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan perekonomian global masih hadapi perlambatan. Hal ini dipicu implementasi kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Di AS, keyakinan pelaku ekonomi turun, seiring dengan implementasi kebijakan tarif yang berdampak pada melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya tingkat pengangguran,” kata Perry saat menyampaikan secara daring hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2025, Rabu (17/9/2025).
Baca Juga
Tarif Rp 1 Berlaku di Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta pada 17 & 19 September 2025
Begitu juga dengan kinerja ekonomi China menunjukkan pelambatan akibat penurunan ekspor ke AS sebagai dampak tarif resiprokal. Selain itu, pelemahan ekonomi domestik terjadi di China karena melemahnya investasi.
Ekonomi Eropa dan Jepang juga dalam tren turun. Menurut dia, hal ini sejalan dengan tertekannya ekspor. Sementara itu, ekonomi India mengalami kenaikan tipis ditopang stimulus fiskal untuk mendorong konsumsi rumah tangga.
Baca Juga
Stimulus Ekonomi 2025 Prioritaskan Ojol dan Pekerja Lepas, Ini Bentuk Perlindungannya
“Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, yaitu sekitar 3%” kata dia.
Prospek ekonomi dunia yang masih melambat dan menurunnya inflasi mendorong sebagian bank sentral menempuh kebijakan akomodatif. Kecuali, bank sentral Jepang.
Probabilitas penurunan Fed Fund Rate (FFR), kata Perry, juga semakin tinggi. Ini sejalan dengan naiknya pengangguran dan penurunan inflasi di AS. Sementara itu, imbal hasil US Treasury Note 10 tahun juga turun sejalan dengan ekspektasi penurunan FFR. “Kita akan menunggu keputusan FFR tersebut pada esok hari,” ujar dia.

