Indonesia Butuh Rp 13.032 Triliun Investasi demi Tumbuh 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 13.032 triliun (sekitar US$ 814,6 miliar) pada periode 2025-2029 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.
Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, target ini jauh melampaui capaian 10 tahun sebelumnya yang hanya Rp 9.900 triliun.
Ia menyebut bahwa kontribusi investasi kini menempati posisi kedua terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah konsumsi domestik. “Investasi kita kontribusinya 27–29%, ini sangat besar,” kata Rosan dalam acara diskusi Indonesia–Japan Executive Dialogue 2025 di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, target ini jauh melampaui capaian 10 tahun sebelumnya yang hanya Rp 9.900 triliun.
Ia menyebut bahwa kontribusi investasi kini menempati posisi kedua terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah konsumsi domestik. “Investasi kita kontribusinya 27–29%, ini sangat besar,” kata Rosan dalam acara diskusi Indonesia–Japan Executive Dialogue 2025 di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Rosan menegaskan, iklim investasi yang stabil, terprediksi, dan efisien menjadi syarat mutlak untuk merealisasikan. Ia turut menyinggung sejumlah tantangan seperti birokrasi lambat, ketidaksinkronan aturan pusat-daerah, hingga kurangnya talenta.
Sebagai solusi, pemerintah diketahui menerbitkan PP terbaru yang memberi kewenangan kepada BPKM untuk mengeluarkan izin jika kementerian teknis terlambat merespons lebih dari 15 hari.
Selain masalah perizinan, strategi lain adalah memperluas hilirisasi di luar sektor mineral, seperti kelapa sawit dan rumput laut. Saat ini, sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30% dari total investasi yang masuk.
Rosan juga menyoroti kontribusi barang modal yang naik signifikan dalam tiga bulan terakhir sebagai bukti masuknya investasi riil, bukan hanya komitmen di atas kertas. “Impor barang modal kita all time high,” jelasnya.
CEO Danantara itu optimistis dukungan politik kuat di era Presiden Prabowo akan mempercepat reformasi investasi. Ia pun tak lupa mengapresiasi Jepang sebagai mitra investasi jangka panjang yang selalu hadir di masa sulit maupun senang.
“Jepang adalah investor setia. Kami akan terus menjaga hubungan ini,” tutupnya.

