Ilham Habibie: Indonesia Butuh Mesin Pertumbuhan Baru demi Hindari Jebakan Kelas Menengah
JAKARTA, Investortrust.id – Di tengah upaya Indonesia untuk mengejar cita-cita Indonesia Emas 2045, yang akan membentuk Indonesia sebagai negara modern di tahun 2045, dibutuhkan mesin-meisn pertumbuhan baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka di atas 5%.
“Ke depan, Indonesia dituntut untuk memacu pertumbuhan ekonomi bukan hanya lima persen, tapi harus enam hingga tujuh persen agar bisa mewujudkan Indonesia Emas dan lepas dari jebakan kelas menengah. Untuk itu kita harus mampu menciptakan mesin-mesin pertumbuhan baru,” kata Ilham Akbar Habibie yang merupakan Presiden Komisaris PT Investortrust Indonesia Sejahtera, saat membacakan opening speech secara daring di gelaran Investortrust CEO Forum bertema “Optimisme Baru Pembangunan Ekonomi era Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta, Kamis (28/8/2024).
Sembari membentuk mesin-mesin pertumbuhan baru, Indonesia juga harus mampu mendatangkan investasi yang akan ikut menopang mesin pertumbuhan yang dikembangkan, Ilham juga menyebut pentingnya mengakselerasi hilirisasi serta menjalankan transformasi ekonomi yang akan memperbesar porsi pertumbuhan ekonomi dari pembentukan modal tetap bruto alias investasi.
“Lima tahun ke depan ini merupakan fase penting. Dalam jangka pendek ini Indonesia menghadapi tantangan kebijakan fiskal yang serius, karena banyak belanja negara yang harus menjadi prioritas. Di sisi lain pemerintah harus menjaga defisit fiskal, dan sustainability fiskal harus menjadi perhatian,” kata Ilham.
Baca Juga
Ilham menyebutkan sejumlah negara yang berhasil masuk menjadi negara maju, dengan pembentukan mesin pertumbuhan baru di sektor industri otomotif, seperti Jepang. Kendati membutuhkan waktu yang cukup lama untuk keluar dari jeratan middle income trap. Keberhasilan Korea juga dijadikan Ilham sebagai contoh keberhasilan salah satu negara di Asia yang mampu menerobos masuk ke status negara maju.
Namun demikian Ilham menegaskan bahwa pertumbuhan tak semata hanya bisa didapat dari sektor industri. “Masih ada pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan dan juga pariwisata dan yang lain-lain, itu semuanya masih ada. Namun demikian yang akan bisa mendorong negara kita mempunyai pertumbuhan ekonomi di atas enam persen hanya industri,” tuturnya. “Jika kita tidak mampu mendorong industri menjadi primadona dari ekonomi kita, maka kita akan terjebak di dalam yang kita kenal sebagai middle income trap (jebakan kelas menengah).
Ia juga menyoroti sulitnya Indonesia untuk mencetak pertumbuhan di atas 5%, karena pertumbuhan industri di daam negeri selalu tumbuh di bawah angka pertumbuhan ekonomi.
“Yang kita lihat sudah belasan tahun adalah deindustrialisasi. Jadi, kalau ekonomi kita tumbuh dengan katakanlah 5 persen, industri di bawah itu. Dan itu tidak boleh terjadi. Bagi negara yang mau berkembang menjadi negara maju, industri harus bertumbuh di atas ekonominya. Jadi, kalau misalnya ekonomi tumbuh dengan 5 persen, alangkah baiknya industri tumbuh di angka 8, 9, bahkan 10 persen,” kata Ilham.
Di tengah harapan tersebut, Ilham mengakupunya optimisme bahwa pemerintahan baru di bawah duet Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka akan mempunyai sinergi dan kekuatan yang bisa menanggulangi semua tantangan tadi.
“Karena saya yakin, baik presiden terpilih Prabowo Subianto maupun Wakil Presiden Gibran, mereka mempunyai keinginan agar kita maju sebagai negara dan bangsa, dengan satu struktur ekonomi dan juga struktur sosial yang lebih baik,” tegasnya.

