Jisdor Catat Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.283 per Dolar AS, Kamis 24 Juli 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar (kurs) rupiah menguat pada penutupan perdagangan Kamis (24/7/2025) sore ini. Data Jisdor menunjukkan kurs rupiah menguat 15 poin (0,09%) ke level Rp 16.283 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan spot, data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah bergerak menguat 8 poin (0,05) ke level Rp 16.295 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kini pasar memantau perkembangan perundingan perdagangan AS-Uni Eropa, menyusul kesepakatan tarif Presiden Donald Trump dengan Jepang. Perjanjian tersebut menurunkan bea masuk impor otomotif dan membebaskan Tokyo dari pungutan baru dengan imbalan paket investasi dan pinjaman senilai US$ 550 miliar yang ditujukan ke AS.
"Dua diplomat Eropa mengatakan pada hari Rabu bahwa Uni Eropa dan AS sedang bergerak menuju kesepakatan perdagangan yang dapat mencakup tarif dasar AS sebesar 15% untuk barang-barang Uni Eropa dan kemungkinan pengecualian, yang berpotensi membuka jalan bagi perjanjian perdagangan besar lainnya," tulis Ibrahim dalam laporannya, Kamis (24/7/2025).
Sebelumnya, Presiden Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa Washington dan Tokyo telah mencapai kesepakatan perdagangan yang luas yang mencakup tarif 15% untuk semua barang impor Jepang, turun dari usulan sebelumnya sebesar 25%.
Baca Juga
Jisdor Catat Kurs Rupiah Melemah Imbas Menguatnya Dolar AS Jelang Deadline Tarif Trump
Sebagai imbalannya, AS mendapatkan investasi besar-besaran dari Jepang senilai $550 miliar dalam perekonomian AS. Sehari sebelumnya, laporan media lokal menyatakan bahwa Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba berencana untuk segera mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi.
Fokus pasar hari ini adalah data Klaim Pengangguran Awal mingguan dan rilis Indeks Manajer Pembelian (PMI) dari AS, Zona Euro, dan Inggris, dengan investor mencermati tanda-tanda ketahanan atau pelemahan ekonomi global. Data ini akan memberikan wawasan baru tentang aktivitas manufaktur dan jasa untuk bulan Juli, dan dapat memengaruhi tentang ekspektasi kebijakan suku bunga.

