Rupiah Pecundangi Dolar AS, Gencatan Senjata Iran-Israel Jadi Sentimen Utama
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (24/6/2025) hari ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat tajam 114 poin (0,69%) ke level Rp 16.370 per dolar AS, setelah pada Senin (23/6/2025) kemarin merosot di Rp 16.484 per dolar AS.
Pada perdagangan pasar spot, data Bloomberg hingga pukul 16.00 WIB menunjukkan kurs rupiah menguat signifikan 138 poin (0,84%) ke level Rp 16.353 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kabar gencatan senjata antara Republik Islam Iran dan rezim zionis Israel menjadi sentimen utama sepanjang perdagangan hari ini. Diketahui Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah sepenuhnya menyetujui gencatan senjata, menambahkan bahwa Iran akan segera memulai gencatan senjata, diikuti oleh Israel setelah 12 jam.
Ibrahim menambahkan jika kedua belah pihak menjaga perdamaian, perang akan resmi berakhir setelah 24 jam, yang sekaligus mengakhiri konflik selama 12 hari. Trump mengatakan bahwa gencatan senjata "lengkap dan total" akan mulai berlaku dengan tujuan untuk mengakhiri konflik antara kedua negara.
Sementara itu keterlibatan langsung AS dalam perang juga telah memfokuskan investor secara langsung pada Selat Hormuz, jalur air sempit dan vital antara Iran dan Oman di Teluk Timur Tengah yang dilalui antara 18 dan 19 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari, hampir seperlima dari konsumsi dunia.
Baca Juga
Rupiah Rebound usai Trump Klaim Iran-Israel Sepakat Gencatan Senjata
"Kekhawatiran berkembang bahwa gangguan apa pun pada aktivitas maritim melalui selat tersebut akan melambungkan harga, mungkin hingga mencapai angka tiga digit," tulis Ibrahim dalam laporannya, Selasa (24/6/2025).
Sedangkan dari sisi kebijakan moneter, pergeseran narasi suku bunga Federal Reserve dengan Gubernur Fed Michelle Bowman mengisyaratkan potensi penurunan suku bunga paling cepat Juli, dengan alasan meredanya tekanan inflasi. Komentarnya menambah spekulasi seputar langkah Fed berikutnya.
"Dengan pasar kini mengalihkan fokus mereka ke kesaksian Ketua Jerome Powell di hadapan Kongres pada hari Selasa untuk petunjuk kebijakan lebih lanjut," lanjut Ibrahim.
Laporan kebijakan moneter The Fed baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada tanda-tanda awal bahwa tarif berkontribusi terhadap inflasi yang lebih tinggi. Namun, dampak penuhnya belum tercermin dalam data. Laporan tersebut menambahkan bahwa kebijakan saat ini berada pada posisi yang baik dan bahwa stabilitas keuangan tangguh di tengah ketidakpastian yang tinggi.
"Hari ini fokus pasar adalah kesaksian Ketua Fed Jerome Powell di Kongres AS, angka Keyakinan Konsumen terbaru dan Indeks Manufaktur Richmond," tutupnya.

