Rupiah Pecundangi Dolar AS usai Pelantikan Presiden Trump
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas di pasar spot, Selasa (21/1/2025). Dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak menguat 45 poin (0,27%) ke level Rp 16.309 per dolar AS, tepat usai pelantikan Presiden AS Donald Trump pada Senin (20/1/2025) waktu setempat atau Selasa dini hari.
Usai pelantikan Trump untuk periode kepresidenannya kedua, indeks dolar memperpanjang penurunannya. "DXY ini turun sekitar 1% menjadi 108,3, menyusul rencana Presiden Trump menginstruksikan lembaga federal untuk meninjau kebijakan perdagangan dan mengevaluasi hubungan perdagangan Amerika Serikat dengan Cina dan negara-negara tetangganya di benua Amerika. Namun, bertentangan dengan kekhawatiran awal, tidak ada tarif baru yang diharapkan akan dikenakan pada hari pertamanya menjabat," papar Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro di Jakarta, Selasa.
Baca Juga
Ia menjelaskan, dolar sudah tertekan di awal sesi, karena pasar menunggu wawasan dari pidato Trump dan perintah eksekutif potensial. Ini khususnya tentang perdagangan.
Janjikan Masa Keemasan AS
Donald Trump baru saja dilantik sebagai presiden Amerika Serikat ke-47. Ia menjanjikan "zaman keemasan" bagi negara dengan ekonomi terbesar tersebut.
Pada hari pertamanya menjabat, Trump menandatangani serangkaian perintah eksekutif yang bertujuan untuk meningkatkan produksi energi, sambil menahan diri dari tarif baru yang ditakutkan banyak investor. Pelaku pasar juga mencermati agenda probisnisnya, termasuk janji deregulasi dan pemotongan pajak, yang dapat memberikan prospek positif bagi ekuitas.
Namun, ketidakpastian tetap ada. Ini karena gaya kepemimpinan Trump yang tidak dapat diprediksi.
Baca Juga
Peluang Kebijakan Pelemahan Dolar
Sementara itu, mantan Ekonom Senior Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Tri Winarno mengatakan, kebijakan Trump diperkirakan akan cenderung diarahkan untul melemahkan dolar dari posisi saat ini. "Salah satu ide kebijakan yang mencengangkan yang mendapatkan tenaga politik di AS baru-baru ini adalah Trump dan timnya, saat menjabat, secara aktif menekan dolar dengan tujuan meningkatkan daya saing ekspor AS dan mengendalikan defisit perdagangannya," ujarnya kepada Investortrust.id, Senin (20/1/2025).
Mengenai pertanyaan apakah Trump bisa melemahkan dolar, lanjut dia, jawabannya jelas ya. Tetapi apakah hal itu akan meningkatkan daya saing ekspor AS dan memperkuat neraca perdagangan Amerika adalah masalah lain.
Metode brute-force untuk menekan dolar akan bergantung pada kebijakan Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter. Trump dapat saja mengganti Ketua The Fed Jerome Powell dan mendorong Kongres untuk mengubah Undang-Undang Federal Reserve, guna memaksa Bank Sentral AS tunduk pada kebijakan eksekutif. Dampaknya adalah nilai tukar dolar akan melemah secara dramatis.
"Tetapi, The Fed tidak akan berdiam diri. Kebijakan moneter dibuat oleh 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal, bukan hanya oleh ketuanya. Pasar keuangan, dan bahkan Kongres, akan melihat intervensi itu pembatalan independensi The Fed dan besar konsekuensinya. Dan, bahkan jika Trump berhasil 'menjinakkan' The Fed, kebijakan moneter yang lebih longgar akan menyebabkan inflasi meningkat, menetralkan dampak nilai tukar dolar yang lebih lemah. Artinya, tidak akan ada peningkatan daya saing AS atau peningkatan neraca perdagangannya," paparnya.

