Donald Trump Ingin Pecat Powell, Rupiah Melemah
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah perseteruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mencari landasan hukum untuk memecat Ketua The Fed Jerome Powell, rupiah melemah. Jisdor BI mencatat kurs rupiah melemah 54 poin atau 0,32% ke Rp 16.862 per dolar AS Selasa (22/04/2025) sore, dibanding hari sebelumnya di Rp 16.808.
Pelemahan mata uang Garuda ini terdampak penguatan indeks dolar AS pada Selasa (22/04/2025). "Dari faktor eksternal, pasar kembali kecewa dipicu oleh kekhawatiran seputar kebijakan moneter AS, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk merombak Federal Reserve. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan pada hari Jumat bahwa Presiden Trump dan timnya terus mempelajari apakah mereka dapat memecat Ketua The Fed Jerome Powell," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Selasa sore.
Baca Juga
Rapat Dewan Gubernur BI Dibuka Rupiah Melemah, IHSG Lanjut Menguat
Trump Minta Penurunan Bunga
Trump pada hari Senin menegaskan kembali seruannya kepada The Fed untuk menurunkan suku bunga acuannya, dengan mengatakan ekonomi AS dapat melambat jika Bank Sentral tidak segera memangkas suku bunga. Minggu lalu, Powell mengatakan bahwa Bank Sentral tidak cenderung memangkas suku bunga dalam waktu dekat, dengan alasan kemungkinan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi yang berasal dari tarif impor baru yang tinggi yang diputuskan Trump.
Perkembangan ini telah memicu kekhawatiran tentang independensi The Fed. "Hal ini mengirimkan riak ke pasar keuangan. Selain itu, ketegangan perdagangan AS-Tiongkok terus meningkat, Tiongkok mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara yang mempertimbangkan perjanjian perdagangan dengan AS yang dapat merugikan kepentingannya," tandas Ibrahim.
Kementerian Perdagangan Tiongkok menuduh Washington menggunakan tarif dan sanksi moneter untuk memaksa negara-negara membatasi perdagangan mereka dengan Tiongkok. Beijing menekankan bahwa perjanjian semacam itu merugikan kepentingannya dan akan mendorong tindakan balasan.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dalam konflik perdagangan Tiongkok-AS yang sedang berlangsung, Hai ini telah menyebabkan AS mengenakan tarif hingga 145% pada barang-barang Tiongkok, yang menyebabkan Tiongkok mengenakan bea masuk balasan 125%.
Baca Juga
Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Bagi Dividen Rp 450 Miliar, Kembangkan Hilirisasi
Faktor Internal
Dari dalam negeri dikabarkan, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus US$ 4,33 miliar pada Maret 2025, naik dibanding bulan sebelumnya. Kendati demikian, para ekonom memproyeksikan surplus dagang tersebut akan menyusut secara bertahap pada tahun ini karena dampak lonjakan tarif impor yang ditetapkan Trump.
"Neraca perdagangan Indonesia ke depan masih diliputi ketidakpastian, terutama akibat meningkatnya risiko pelemahan permintaan ekspor dan pergeseran permintaan domestik. Ini lantaran terjadi eskalasi perang dagang akibat penerapan tarif resiprositas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada para mitra dagangnya termasuk Indonesia," ujarnya.
Tarif Trump tersebut dapat menyebabkan pelemahan permintaan dari mitra dagang utama Indonesia seperti Cina, AS, dan Uni Eropa, sehingga menurunkan volume ekspor. Ini khususnya di sektor manufaktur dan yang berbasis sumber daya alam.
Selain itu, fluktuasi harga energi dan mineral global dapat memengaruhi nilai ekspor Indonesia. Hal ini dapat memangkas ekspor RI.
"Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan surplus perdagangan US$ 4,33 miliar pada Maret 2025 lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pada Februari 2025, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$ 3,12 miliar. Sementara itu, secara kumulatif, surplus neraca perdagangan selama Januari hingga Maret 2025 mencapai US$ 10,92 miliar. Indonesia mencatatkan surplus 59 bulan beruntun sejak Mei 2020," papar Ibrahim.
Pada perdagangan di pasar spot valas sore ini, kurs rupiah terhadap greenback ditutup melemah 53 poin -- dari sebelumnya sempat melemah 70 poin -- di level Rp 16.859,5 per dolar AS. Sedangkan penutupan sebelumnya di level Rp.16.806,5.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif. Rupiah kemungkinan ditutup melemah di rentang Rp 16.840-16.900 per dolar AS," kata Ibrahim.

