Wall Street Bergejolak, Dow Melonjak Hampir 250 Poin Usai Trump Bantah Pecat Powell
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Pasar saham AS bergerak volatil pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (17/7/2025). Tapi, tiga indeks utama ditutup menguat.
Wall Street mengalami fluktuasi tajam setelah seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump semakin dekat untuk memecat Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve, yang sempat menekan indeks S&P 500. Indeks acuan tersebut kemudian rebound setelah Trump membantah laporan itu, meskipun para pelaku pasar tetap khawatir bahwa ia bisa saja melanjutkan rencananya.
Baca Juga
Powell dan Trump Berpotensi Bertabrakan dalam Kebijakan Suku Bunga
Indeks S&P 500 naik 0,32% dan ditutup di level 6.263,70. Nasdaq Composite menguat 0,26%, berakhir di 20.730,49 dan mencatatkan penutupan rekor ke-9 sepanjang tahun ini. Dow Jones Industrial Average menambahkan 231,49 poin, atau 0,53%, berakhir di 44.254,78. Pada titik terendah sesi perdagangan, indeks berisi 30 saham unggulan ini sempat merosot 264,31 poin, atau 0,6%.
Dilansir CNBC, seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada legislator Partai Republik bahwa Trump “kemungkinan besar dalam waktu dekat” akan mencopot Powell sebagai Ketua The Fed. Terpisah, The New York Times melaporkan bahwa Trump bahkan telah menyusun surat pemecatan Powell dan menunjukkannya kepada para anggota parlemen dalam pertemuan tersebut.
Namun, tak lama kemudian Trump meredam laporan tersebut dengan mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinannya ia akan memecat Powell dalam waktu dekat. “Tidak, kami tidak berencana melakukan itu,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa ia tidak “menutup kemungkinan apa pun.”
Baca Juga
Selama berminggu-minggu, Trump telah mendorong pemecatan Powell dan mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga secara signifikan. Pada hari Selasa, ia menyatakan bahwa bank sentral seharusnya memangkas suku bunga sebesar 3 poin persentase.
Namun, Powell pada awal bulan ini menegaskan bahwa The Fed sebenarnya sudah akan melonggarkan kebijakan moneternya jika bukan karena tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. “Pada dasarnya, kami menahan diri saat melihat besarnya tarif tersebut, dan hampir semua proyeksi inflasi untuk Amerika Serikat meningkat secara signifikan sebagai akibat dari tarif,” kata Powell.
“Pasar jelas tidak akan senang jika Powell dipecat,” ujar Larry Tentarelli, pendiri Blue Chip Daily Trend Report. “Ini jelas isu yang sarat muatan politik… tetapi secara umum, kebanyakan pelaku pasar besar yang saya kenal menilai Powell telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.”
Di sisi lain, data baru pekan ini memunculkan kekhawatiran soal inflasi yang masih membandel dan dampak dari tarif Trump terhadap perekonomian AS. Indeks harga konsumen (CPI) yang dirilis Selasa menunjukkan kenaikan pada bulan Juni dibandingkan Mei. Sementara itu, laporan Rabu tentang harga grosir (PPI) menunjukkan tidak ada perubahan dari bulan sebelumnya, tetapi data tersebut “tidak sepositif kelihatannya jika dilihat lebih dalam,” kata Marc Balcer, direktur strategi investasi di Girard.
“Penting dicatat bahwa PPI tidak mencerminkan dampak langsung tarif, artinya pendapatan tarif sebesar $27 miliar yang dikumpulkan pada bulan Juni harus ditanggung oleh produsen asing, perusahaan domestik, atau pada akhirnya konsumen,” ujar Balcer.
Laporan laba perbankan berlanjut untuk hari kedua. Meskipun membukukan hasil yang melampaui ekspektasi, saham Bank of America dan Morgan Stanley masing-masing ditutup sedikit melemah. Sementara Goldman Sachs juga melampaui perkiraan, dan sahamnya naik hampir 1%.

