Dana Asing Masih Keluar di tengah Indeks Dolar Turun
JAKARTA, investortrust.id - Dana asing masih keluar dari pasar keuangan Indonesia, di tengah indeks dolar Amerika Serikat turun menyusul perang dagang lantaran pengumumam kebijakan baru penaikan luar biasa tarif impor resiprositas oleh Presiden AS Donald Trump. Investor asing masih mencatatkan net sell jumbo saham Rp 2,48 triliun pada perdagangan Selasa (15/04/2025), di Bursa Efek indonesia. Asing juga masih membukukan penjualan bersih di Surat Berharga Negara (SBN) RI senilai Rp 0,43 triliun Senin.
Aliran net foreign capital inflows itu menambah akumulasi penjualan bersih saham oleh asing di Bursa Efek Indonesia month to date menjadi Rp 10,74 triliun hingga kemarin. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 40,66 triliun. Ini setara US$ 2,42 miliar,” papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, kemarin sore.
Sentimen negatif datang eksternal, dari perseteruan sengit dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Tarif impor resiprositas AS mendapat retaliasi dari Cina, dengan memberlakukan tarif yang dinaikkan berulang kali untuk produk AS hingga 125%. Terakhir, dibalas lagi oleh Presiden AS Donald Trump dengan menaikkan tarif impor atas Tiongkok 145% dan kemudian ada pengecualian memberlakukan tarif 20% untuk produk elektronik seperti smartphone dan laptop.
Sedangkan untuk negara lain, Trump menunda pemberlakuan tarif resiprositas 90 hari untuk negosiasi, per 9 April 2025. Tarif resiprositas untuk Indonesia ditetapkan AS 32%.
"Sentimen negatif datang dari ketidakpastian akan tarif (impor)," kata analis pasar modal Reza Priyambada, Jakarta, Rabu (16/04/2025).
Baca JugaReformasi Impor, Penurunan Tarif, dan Deregulasi, Siapkan Indonesia Pusat Manufaktur
Cadev Rekor Rertinggi
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) pada akhir Maret 2025 menembus US$ 157,1 miliar, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan data Bank Sentral, angka tersebut meningkat Rp 2,6 miliar (1,68%) dibanding akhir Februari lalu US$ 154,5 miliar.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso kenaikan posisi cadev tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Hal ini, kata dia, sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
"Posisi cadev pada akhir Maret 2025 setara pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ramdan Denny.
Baca Juga

