Investasi Bengkak Rp 121 Triliun, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Masih Berdarah-Darah
Oleh Anthony Budiawan,
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
INVESTORTRUST.ID - Sudah lama tidak terdengar kabar tentang Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Moda berbasis rel yang dinamai Whoosh ini adalah sistem kereta api berkecepatan tinggi yang pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
Kereta cepat itu sudah beroperasi sejak 2023, namun kondisinya hingga tahun lalu tidak menggembirakan sama sekali. Kondisinya tidak baik-baik saja, sedang berdarah-darah.
Baca Juga
Biaya Bengkak Rp 20 Triliun Lebih
Biaya investasi proyek kereta cepat awalnya disepakati US$ 6,02 miliar (setara Rp 101,17 triliun dengan kurs saat ini Rp 16.805 per dolar AS). Tendernya dimenangkan Cina, mengalahkan Jepang, lantaran pihak Tiongkok tidak mewajibkan garansi dari negara sementara Jepang minta garansi.
Proyek ini didanai melalui skema 25% ekuitas (saham) dan 75% pinjaman dari China Development Bank. Sebanyak 25% merupakan setoran modal pemegang saham, yaitu gabungan dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) 60% dan Beijing Yawan HSR Co Ltd 40%. Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) 51,37%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 39,12%, PT Perkebunan Nusantara I 1,21%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 8,30%. Adapun komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co Ltd yaitu CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.
Namun kemudian, proyek tersebut molor lama dan biaya proyek membengkak (cost overrun). Tidak tanggung-tanggung, cost overrun mencapai US$ 1,2 miliar, setara sekitar Rp 20,23 triliun atau 20% lebih mahal. Artinya, total biaya investasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai US$ 7,22 miliar (Rp 121,33 triliun). Ini luar biasa tinggi.
Mengingat 75% dari biaya investasi tersebut diperoleh dari pinjaman, total utang membengkak mencapai sekitar US$ 5,42 miliar. Biaya bunga untuk investasi awal yang sebesar US$ 6,02 miliar dikenakan biaya bunga 2% per tahun. Bahkan, pinjaman terkait cost overrun dikenakan biaya bunga 3,4% per tahun. Sehingga total biaya bunga menjadi US$ 120,9 juta per tahun atau sekitar Rp 2,03 triliun.
Pendapatan Tiket di Bawah Bunga!
Padahal, jumlah tiket yang terjual sepanjang tahun 2024 hanya sebanyak 6,06 juta tiket. Dengan asumsi harga tiket rata-rata Rp 250.000, maka total pendapatan Kereta Cepat Jakarta-Bandung tahun 2024 hanya Rp 1,5 triliun. Dengan asumsi kurs rupiah rata-rata sebesar Rp 15.000 per dolar AS sepanjang tahun 2024, maka biaya bunga dalam rupiah mencapai Rp 1,8 triliun untuk tahun lalu, atau jauh di atas pendapatan tiket.
Artinya, terjadi defisit (kerugian) sekitar Rp 300 miliar untuk membayar bunga saja. Ini belum termasuk biaya operasional dan biaya lain-lain, yang pasti mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.
Baca JugaMenkeu: Realisasi APBN Defisit Rp 104,2 Triliun hingga Maret
Defisit Kereta Cepat Jakarta-Bandung itu nampaknya harus ditutupi dari utang lagi. Kondisi ini tentu saja sangat bahaya. Tidak sustained, bagaikan skema Ponzi saja.
Sampai kapan BUMN konsorsium pihak Indonesia bisa bertahan dari ‘pendarahan’ ini? Kita tunggu episode selanjutnya dan tentu saja negosiasi yang tidak merugikan Indonesia, mumpung dunia juga lagi musim negosiasi bilateral yang mengedepankan kepentingan nasional. Meminjam istilah Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Indonesia First!
12 April 2025

