Setiap Kenaikan Harga Minyak US$ 10, Beban Subsidi Energi di APBN Bengkak Rp 50 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memberikan tanggapan terkait dampak konflik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga domestik, termasuk bahan bakar minyak (BBM). Setiap kenaikan harga minyak US$ 10 per barel, subsidi energi akan membengkak Rp 50 triliun.
Menurut Prasasti, situasi ini menuntut pemerintah untuk meninjau kembali keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, dan daya tahan ekonomi nasional. Direktur Prasasti, PiterAbdullah, mengungkapkan bahwa dalam kondisi harga minyak global yang terus meningkat, tekanan terhadap harga BBM domestik hampir tidak dapat dihindari.
"Pertanyaannya bukan hanya apakah harga BBM akan naik atau tidak, tetapi sejauh mana pemerintah mampu menahan kenaikan tersebut melalui kebijakan fiskal yang tersedia," ujar Piter melalui keterangan tertulis, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, apabila pemerintah memutuskan untuk menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi, maka beban fiskal akan meningkat. Sebaliknya, jika harga BBM dibiarkan naik, maka inflasi domestik bisa menjadi semakin kuat. Piter juga menyoroti posisi Indonesia yang sebagai net importer BBM, dengan konsumsi nasional mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengahnya. Hal ini membuat Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar dolar AS.
Kenaikan harga energi, lanjutnya, dapat meningkatkan tekanan inflasi secara bertahap, baik melalui dampak langsung pada harga BBM maupun dampak lanjutan pada biaya produksi, distribusi, dan harga barang konsumsi. "Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi, tergantung pada respons kebijakan yang diambil," katanya.
Dalam konteks makroekonomi, Piter menekankan pentingnya pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilisasi harga dan ketahanan fiskal. Ia mengingatkan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$ 10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi hingga Rp 50 triliun. "Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk menahan harga BBM melalui subsidi memiliki konsekuensi fiskal yang besar, apalagi ketika harga minyak global terus meningkat," tambahnya.
Selain itu, dinamika nilai tukar juga menjadi variabel penting dalam situasi ini. Peningkatan harga energi global dan potensi pelemahan rupiah terhadap dolar AS bisa memperbesar tekanan harga impor. Piter menyarankan agar stabilitas makroekonomi dijaga dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati. "Gejolak global akibat perang ini dapat mendorong harga BBM naik dan memperburuk pelemahan rupiah, sehingga harga barang impor semakin mahal dan tekanan inflasi semakin besar," ujarnya.
Piter juga memandang bahwa dampak yang perlu diwaspadai lebih banyak berasal dari sisi harga dibandingkan gangguan pasokan fisik. "Saya tidak melihat indikasi disrupsi struktural dalam waktu dekat, meski tetap perlu diwaspadai efek rambatan kenaikan biaya energi terhadap sektor produksi dan logistik domestik," jelasnya.
Baca Juga
Iran Tutup Selat Hormuz di Tengah Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
Dari sisi pasar keuangan, Piter tidak terlalu khawatir dengan gejolak yang ada, karena sebagian investor justru melihat volatilitas ini sebagai kesempatan untuk masuk ke pasar Indonesia. "Kondisi volatilitas tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengoleksi aset keuangan Indonesia," katanya.
Prasasti menekankan bahwa periode ketidakpastian global seperti saat ini menuntut kebijakan yang adaptif dan terukur, dengan fokus pada perhitungan fiskal yang cermat. Pemerintah diimbau untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan kesehatan fiskal untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Dengan melihat kondisi yang ada, Prasasti menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi dengan kebijakan yang responsif dan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Imbas Ketegangan Timur Tengah, tapi Dampak ke RI Terbatas
Selain itu, Piter juga mengingatkan potensi dampak ketidakpastian global terhadap aktivitas umroh dan haji, yang memiliki kaitan ekonomi yang luas di dalam negeri. Ia mengatakan, jika ketidakpastian berlanjut dan memengaruhi mobilitas internasional, sektor perjalanan dan perhotelan akan terdampak.
"Jika pembatasan terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada sektor perjalanan, tetapi juga akan merembet pada pertumbuhan ekonomi domestik," ujarnya.

