IHSG Rontok, Bankir Perkirakan BI Tahan Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Economist PT Bank UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75% dalam rapat dewan gubernur (RDG) 18-19 Maret 2025. Sejumlah kejadian menghebohkan menambah sentimen ketidakpastian di pasar keuangan, seperti indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia rontok sehingga perdagangan sempat dihentikan sementara, Selasa siang (18/03/2025). Trading halt terakhir dilakukan BEI lima tahun lalu, ketika perekonomian dan bursa Indonesia anjlok saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Pada RDG BI Februari 2025, dewan gubernur juga memutuskan untuk mempertahankan BI Rate 5,75%. "Pandangan kami adalah besar kemungkinan Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga acuan mereka pada RDG Maret 2025," kata Enrico kepada Investortrust, Jakarta, Selasa (18/03/2025).
Baca Juga
Masih Peluang Pangkas Bunga
Namun, secara umum, alumnus National University of Singapore (NUS) itu menyebut masih ada ruang apabila Bank Sentral RI ingin melakukan pemangkasan suku bunga acuan. Menurut dia, setidaknya BI diperkirakan bakal dua kali memangkas BI Rate tahun ini.
"Kemungkinannya adalah pemangkasan sebesar 25 basis poin (bps) pada kuartal II dan 25 bps di kuartal III. Ini akan membawa titik terminal (suku bunga acuan terakhir) di tahun ini ke 5,25%," sebutnya.
Baca JugaEmas Tembus US$ 3.000, Pasar Menanti Sinyal Dovish dari The Fed
Enrico berujar, rendahnya angka inflasi dan adanya kemungkinan berlanjutnya tren perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah alasan utama di balik masih terbukanya ruang bagi Bank Sentral untuk menurunkan suku bunga acuan.
Dalam asesmen terakhir, BI menyoroti inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2025 menurun secara tahunan dan terjadi deflasi secara bulanan. Inflasi IHK pada Januari 2025 sebesar 0,76% year on year, lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya 1,57% (yoy). Sementara itu, inflasi inti tetap terkendali 2,36% (yoy) sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia untuk mengarahkan ekspektasi inflasi. Inflasi kelompok volatile food (VF) juga terkendali 3,07% (yoy).
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%," kata Perry di Jakarta, 19 Februari 2025.
Pada Februari 2025, Indonesia kembali dilanda deflasi sebesar 0,48% secara bulanan dan bahkan tahunan sebesar 0,09%. Deflasi month to month yang terjadi beruntun di Tanah Air sejak Januari 2025 dan deflasi tahunan ini mendapat perhatian luas.
Berdasarkan data yang diolah Riset Inverstortrust.id, deflasi secara tahunan pada Februari adalah yang pertama kali terjadi sejak Maret 2020. Maret lima tahun lalu tepat pemerintah mengakui RI dilanda pandemi baru.
"Deflasi yang terjadi akibat penurunan indeks harga konsumen pada Februari 2025. Secara year on year juga terjadi deflasi sebesar 0,09% dan secara tahun kalender deflasi 1,24%," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (03/03/2025).
Sempat Anjlok 6,12%
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai rontoknya indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga sempat turun sebanyak 395,87 poin (6,12%) menjadi 6.076 pada penutupan sesi I hari ini, Selasa (18/03/2025), merupakan sesuatu yang normal.
"Penurunan indeks sudah terjadi sejak minggu lalu dan bukan sesuatu yang tidak wajar," kata Direktur Utama BEI Iman Rachman kepada media di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (18/03/2025).

