Bankir Perkirakan BI Tahan Suku Bunga Acuan 6%
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6%. Menurut dia, perkiraan tersebut didasari atas pertimbangan tren penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap seluruh mata uang Asia sepanjang Oktober.
Soal penguatan dolar sendiri, dia menilai hal tersebut dipicu oleh eskalasi geopolitik Timur Tengah, serta rilis data fundamental ekonomi AS. Lebih lanjut, dia menyebut rilis data tenaga kerja AS di satu sisi mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja negeri Paman Sam yang mengetat sehingga ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga Fed berubah.
"Meskipun demikian ruang penurunan tetap terbuka mempertimbangkan kondisi inflasi yang tetap terkendali terutama inflasi inti yang tetap terjangkar dalam target sasaran inflasi BI," kata Josua kepada Investortrust.id, Selasa (15/10/2024).
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok 4% Seiring Meredanya Kekhawatiran soal Pasokan Iran
Diketahui kebijakan suku bunga acuan BI akan diumumkan seiring dengan berakhirnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 15-16 Oktober 2024. Sebelumnya RDG BI pada September lalu memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan 25 bps, menjadi sebesar 6,00%.
Kebijakan Bank Sentral ini untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Suku bunga Deposit Facility juga diturunkan 25 bps menjadi sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility turun 25 bps menjadi 6,75%.
"Ini sesuai upaya penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah dan perlunya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, saat konferensi pers Hasil RDG BI di Jakarta, September lalu.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Menguat Terbatas, Cermati Saham ERAA, SMGR dan JPFA
Dengan keputusan ini, BI tercatat menurunkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak penaikan BI Rate sebesar 25 bps pada April 2024. Diketahui suku bunga acuan tertinggi di era Jokowi adalah sebesar 6,25% yang terjadi periode April-Agustus 2024. Sedangkan yang terendah tercatat di angka 3,50% pada Februari 2021-Juli 2022.

